Kamis, 04 April 2024

Potensi Sadap Getah Pinus di KTH Karang Kitri 07 Desa Ketro Kecamatan Tulakan Kabupaten Pacitan

Potensi Sadap Getah Pinus di KTH  Karang Kitri 07 Desa Ketro Kecamatan Tulakan  Kabupaten Pacitan

Pendahuluan

Kelola Usaha pada KTH adalah merupakan salah satu tolok ukur tingkat kemandirian kelompok . Semakin baik dan besar usaha kelompok semakin  mandiri kelompok tani hutan dalam menjalankan Lembaga kelompok.

Solid nya kelompok dalam menjalankan organisasi menjadi kunci suksesnya usaha yang dikelola oleh kelompok. Kelompok yang sudah maju dan mandiri mampu mengelola badan usaha kelompok dan korporasi bahkan sudah mempunyai Badan Hukum sebagai legalitas formal.

KTH Karang Kitri 07 adalah Kelompok Tani Hutan di desa KetroKecamatan Tulakan Kabupaten Pacitan, berdiri tahun 2014. Usaha kelompok secara umum adalah usaha pertanian lahan kering dengan pola Agroforestry, dimana lahan usahatani ditanami tanaman hutan (kayu) dan di bawah tegakan secara umum diusahakan ditanami tanaman pangan dan tanaman empon-empon (Wana Farma).

Profil Kelompok                        

Nama KTH                            : Karang Kitri 07
Alamat                                   : Desa Ketro Kecamatan Tulakan Kabupaten Pacitan
Tahun berdiri                         : 2014
Pengurus  :      1  Ketua          : Katno
                        2. Sekretaris   : Pawito
                        3. Bendahara  : Tunarwan
Jumlah anggota                      : 21  orang
Luas hutan                             : 30 ha  


Pengelolaan Sadap Getah Pinus di KTH Karang Kitri 07

  1. Riwayat singkat Sadap Pinus KTH Karang Kitri 07

Awal tahun 2020 dibawah bimbingan Penyuluh Kehutanan dengan mitra usaha CV Rimbun Sejahtera dilakukan sosialisasi kepada kelompok  tentang Prospek Usaha Getah Pinus, yang disambut antusias oleh beberapa anggota kelompok.

Kegiatan sadap pinus dimulai oleh 14 orang anggota dengan  fasilitas peralatan sadap dibantu oleh mitra usaha, dan hsail getah yang dikumpulkan dibeli oleh mitra usaha.

Terkendala adanya wabah  COVIDS-19 kegitan sadap  pinus sempat terhenti karena kacaunya system perdagangan getah pinus, hal ini berdampak lesunya minat petani dalam usaha sadap pinus tersebut.

Pasca gelombang wabah Covid-19 permintaan getah pinus meningkat, hal ini memeotivasi salah seorang tokoh anggota kelompok untuk membangkitkan Kembali usaha sadap getah pinus tersebut. Hal ini ditandai adanya fasilitasi  Kemitraan Kerjasama dengan CV Rimbun Sejahtera dalam Usaha Sadap Getah Pinus di KTH Karang Kitri 07   pada pertengahan tahun 2022 oleh Penyuluh Kehutanan.


Pembinaan Kelompok dan Pendampingan

Upaya pengelolaan usaha Sadap Getah pinus di KTH Karang Kitri 07 berjalan dengan dorongan dan motifasi dari Penyuluh Kehutanan , Mitra usaha CV Rimbun Sejahtera, dan peran tokoh anggta kelompok sebagai penanggungjawab  dalam kelompok.

Kegiatan pembinaan dilakukan dalam pertemuan rutin yang disepakati kelompok dan berjalan dengan baik yaitu setiap tanggal “ Dua”



Dalam pertemuan tersebut dilakukan pembinaan oleh mitra usaha , Penyuluh Kehutanan, dan pihak terkait bila dibutuhkan. Dalam pertemuan tersebut dilakkan arisan, dan penimbangan getah hasil sadapan, yang sekaligus transaksi  jual beli dengan mitra usaha





.
Potensi dan hasil

Potensi hasil getah pinus pada KTH Karang Kitri 07 adalah 400 Kg – 600 Kg perbulan, dengan harga Rp. 9.000,- / kg  nilai transaksi penjualan kelompok berkisar : Rp. 3.00.000,- s/d  Rp. 5.400.000,- / per bulan.

Jumlah petani penyadap 12 orang dengan jumlah tanaman pinus siap sadap 5.000 batang,

 



Kendala dan tantangan

  1. Masih tingginya penebangan pinus oleh anggota karena kebutuhan ekonomi yang mendesak,
  2. Beberapa tanaman mempunyai produktifitas rendah yang mungkin disebabkan factor genetis tanaman
  3. Lambatnya riap pertumbuhan pinus yang disebabkan kondisi lahan yang bervariatif , sehingga memerlukan waktu yang lama untuk tanaman yang siap sadap.
  4. Petani kesulitan mendapatkan bibit tanaman untuk pengembangan.



Saran Tindak lanjut

  1. Upaya pengembangan tanaman pinus bisa dilakukan seara swadaya dan bantuan pihak terkait, kelompok bisa bekerjsama dengan Penyuluh Kehutanan dalam membuat pesemaian pinus seacar swadaya.  Berkoordinasi dengan mitra usaha untuk mnendapatkan bibit pinus.
  2. Penguatan modal usaha kelompok untuk mengatasi kebutuhan mendesak anggota, sehingga upaya penebangan pohon pinus dapat dikurangi.

 

Selasa, 16 Januari 2024

 

GULLY PLUG DARI BAMBU

Gully Plug adalah bangunan konservasi tanah sipil teknis yang berfungsi sebagai pengendali jurang, berupa bendungan kecil lolos air, dibuat pada parit-parit kecil melintang air berupa kayu / bambu.

Manfaat  pembuatan Gully Plug di antaranya adalah :

  • Memperbaiki lahan yang rusak akibat gerusan air sehingga terjadi jurang/parit
  • Mencegah meluasnya jurang dan parit
  • Mengendalikan erosi sedimen dari daerah hulu
  • Memperbaiki tata air di sekitarnya

Secara umum syarat suatu lokasi layak untuk pembuatan Gully Plug yaitu :

  • Lahan dengan kemiringan 30 %.
  • Daerah sekitar dikategorikan sebagai lahan kritis
  • Daerah tangkapan air 0,5 Ha – 10 Ha
  • Lebar dan kedalaman alur/parit/jurang maksimal 3 m X 3 m.
  • Panjang alur mencapai 250 meter.
  • Kemiringan alur maksimal 5 %.

Dalam kondisi tertentu pembuatan Gully Plug juga diperlukan, misalnya untuk penyelamatan fasilitas umum seperti jalan, jembatan atau bangunan umum yang terancam longsor karena berada di tepi tebing alur air, meskipun dengan memperhatikan kondisi alur dan luas daerah tangkapan air (catchment area) baru dapat ditentukan bangunan konservasi tanah apa yang seharusnya dibangun di lokasi itu, apakah cukup berupa Gully Plug atau harus berupa Dam Penahan.

Pembuatan Gully Plug dengan bronjong kawat dan batu membutuhkan biaya yang besar sehingga  relatif tidak dapat dijangkau oleh petani.  Karenanya perlu alternatif pembuatan Gully Plug dengan bahan baku yang murah dan mudah diperoleh di sekitar calon lokasi pembuatan.

Alternatif bahan pembuatan Gully Plug  yang mudah diperoleh dan murah salah satunya  adalah bambu.    Selain itu penggunaan bambu sebagai bahan baku pembuatan Gully Plug  diharapkan dapat mengatasi sulitnya memperoleh bahan baku batu dan kawat bronjong (karena kondisi lokasi pembuatan Gully Plug yang tidak ada batu atau jauh dari sumber batu. Atau jarak lokasi yang jauh dari jalan sehingga pengadaan batu menjadi tidak efisien atau karena kurangnya dana).

Salah satu syarat dalam pembuatan Gully Plug berbahan baku bambu yaitu dasar alur harus dapat ditancapi bambu sedalam minimal 30 cm dan akan lebih baik jika bisa sedalam 50 cm.   Dengan demikian jika kondisi dasar alur merupakan lempeng batuan keras yang tidak memungkinkan ditancapi bambu, maka pembuatan Gully Plug berbahan baku bambu tidak mungkin bisa dilaksanakan.

Beberapa prinsip yang diacu dalam pembuatan  pembuatan Gully Plug juga harus tetap di trapkan dalam pembuatan Gully Plug berbahan baku bambu, yaitu penempatan as bangunan tidak boleh pada belokan alur untuk mencegah gempuran air pada tebing yang berlawanan dengan arah belokan, panjang alur yang berada di bagian hulu bangunan Gully Plug yang akan berfungsi sebagai bak penampung sedimen harus memiliki panjang yang cukup, untuk Gully Plug dengan bentang atas 3 meter, panjang alur yang akan berfungsi sebagai bak penampung sedimen sebaiknya mencapai 30 meter dengan kemiringan maksimal 5 %.

Gully Plug dengan bahan baku bambu bisa dibuat berupa satu baris bambu yang ditancapkan vertikal berjajar rapat melintang alur.  Panjang batang bambu diatur sedemikian rupa dimana batang bambu yang dipancangkan di bagian pinggir dipotong sedemikian rupa sehingga setelah ditancapkan sedalam 50cm tinggi bagian atasnya sama dengan tinggi tebing alur.  Sedangkan bambu yang berada dibagian tengah yang akan berfungsi sebagai saluran pelimpah air dipotong sedemikian rupa sehingga jika ditancapkan sedalam 50 cm maka tinggi bagian atasnya lebih rendah 50 cm dari tinggi tebing alur.  Jumlah bamboo yang ditancapkan di bagian tengah alur yang akan berfungsi sebagai saluran pelimpah air menyesuaikan dengan lebar melintang dasar alur.

Yang harus diperhatikan dalam pembuatan Gully Plug berbahan baku bambu ini diantaranya adalah :

  • Bagian yang akan ditancapkan adalah bagian bonggol atau ruas bambu yang lebih bawah dan yang berada di sebelah atas haruslah yang pucuk atau ruas bambu yang lebih atas.
  • Bagian bawah bambu yang akan ditancapkan dipotong meruncing agar mudah ditancapkan.
  • Bambu ditancapkan sedalam 50 cm atau minimal 30 cm.
  • Bambu yang telah ditancapkan berjajar, diikat dengan kawat galvanis dengan diameter 5 mm dirangkai dengan bambu yang dipasang melintang untuk memperkuat jika tiba-tiba arus air besar atau ada sampah berukuran besar agar tidak rusak tak beraturan.
  • Lebih baik jika di bagian depan dari bambu yang telah ditancapkan juga ditempatkan ijuk yang telah disusun sedemikian rupa dengan bantuan belahan bambu dan kawat galvanis, sehingga semua bagan depan rangkaian bambu tersebut tertutupi oleh ijuk yang akan berfungsi menahan sedimen atau endapan lumpur/tanah yang tererosi dengan lebih baik, sehingga tidak ada sedimen yang menerobos Gully Plug berbahan bambu yang telah dibuat.
  • Harapannya Gully Plug yang telah dibuat itu nantinya akan tumbuh menjadi rumpun bambu, sehingga menjadi Gully Plug hidup. Jika sudah menjadi rumpun bambu perawatan yang harus dilakukan adalah memotong ranting yang menghalangi saluran pelimpah air, atau mengarahkannya ke samping dengan bantuan kawat galvanis agar saluran pelimpah air tetap berfungsi dengan baik.

                                                                                                             

  Gambar 1.  Gambar Penampang Melintang                                  Alur/ Jurang

 




                                                                                                   Gambar 2.  Gambar Tampak Atas Gully Plug berbahan Baku Bambu Satu Baris

 

              



Gambar 3.  Gully Plug Berbahan Bambu Lebar Dasar                      Alur 1 m Lebar Atas Alur 3 m Tinggi                                Tebing Alur 1,5 m Tampak Depa    



Model lain pembuatan Gully Plug berbahan baku bambu adalah dengan dua baris bambu yang ditancapkan berjajar melintang alur air/jurang, satu baris di bagian depan ditancapkan condong searah arus air (kea rah hilir) dengan kemiringan sekitar 110-115 derajat dan satu baris bambu ditancapkan berjajar melintang alur/jurang condong berlawanan dengan arah aliran air dengn kemiringan sekitar 75-80 derajat.  Kedua baris bambu ditancapkan dengan kedalaman 0,5 m ke dalam tanah.  Ujung atas bambu yang akan berfungsi sebagai saluran pelimpah air diposisikan berjarak 0,5 meter.   Di antara kedua baris bambu diisi dengan tanah yang dipadatkan.  Kedua barisan bambu diperkuat dengan batang bambu yang diikat melintang dengan kawat galvanis berdiameter 5 mm.

Harapannya Gully Plug berbahan bambu ini akan hidup dan menjadi Gully Plug hidup berupa rumpun bambu, sehingga ranting bambu yang berada di bagian saluran pelimpah harus diarahkan ke samping atau dipotong agar dapat tetap berfungsi sebagai saluran pelimpah air.

        Gambar 4.  Gully Plug Dengan 2 Baris Tampak Samping

             

         




           Gambar 5. Gully Plug Berbahan 2 Baris Bambu Mulai Tumbuh

Sebenarnya untuk mencegah tanah yang ada di antara kedua barisan bambu terkikis oleh air,bagian luar dari barisan bambu dapat dilapisi dengan ijuk yang ditata sedemikian rupa sebagai lapisan penahan sedimen sekaligus pelindung tanah di antara ke dua barisan bambu.

Demikian juga pada dasar alur yng menjadi tempat terjunnya air dapat diperkuat dengan lapisan ijuk yang telah diikat dengan kawat galvanis pada belahan bambu yang mengapit lapisan ijuk tersebut.  Dengan demikian tanah pada dasar alur yang menjadi tempat terjunan air terhindar dari erosi berlebihan akibat tekanan air yang jatuh dari saluran pelimpah air.

Model lain pembuatan Gully Plug berbahan baku bambu adalah dengan satu baris bambu yang ditancapkan berjajar dengan jarak 1 M x 1 M melintang alur air/jurang, sebagai patok, kemudian barisan/patok bambu diperkuat dengan batang bambu mendatar dan diikat melintang dengan kawat galvanis berdiameter 5 mm ( seperti  pada gambar dibawah ini )








 

 

Rabu, 08 November 2023

Dampak Serta Kerugian yang Diakibatkan Kebakaran Hutan

Dampak Serta Kerugian yang Diakibatkan Kebakaran Hutan



























DAMPAK BIOLOGI

         1. Habitat makhluk hidup yang menghilang
pembakaran hutan di Riau yang terjadi otomatis dapat menghilangkan habitat satwa lokal. Makhluk hidup yang tinggal di hutan tersebut pun akan tergusur, kelangsungan hidup mereka pun terganggu seperti untuk berinteraksi, mencari makanan, bernafas dan lainnya. Bahkan dikabarkan bahwa ada seekor harimau yang keluar dari hutan. Ia mencari tempat tinggal lain sebagai pengganti tempat tinggalnya yang hilang. Bukan hanya kehilangan tempat tinggal, bahkan makhluk hidup yg ada di dalam hutan tersebut dapat mati apabila ia tidak bisa melarikan diri/menyelamatkan diri. Jika satwa atau tanaman yg terdapat di dalam hutan tersebut langka, maka mereka juga dapat punah. Maakhluk hidup yg keluar dari hutan/mecari habitat baru karena habitatnya rusak akan menggaggu masyarakat setempat. 
Kerugiannya akan terjadi kepunahan jika hal ini terus berlanjut dan tidak ada penangana lebik lanjut. Masyarakat juga akan kehilangan lingkungannya karena tergusur oleh hewan-hewan yang kehilangan tempast tinggalnya.

         2. Top soil/horizon yg akan menipis

hutan yg terdapat di Riau merupakan hutan gambut (tanah gambut= tanah yang tidak subur). Gambut adalah vegetasi yg tidak mudah terbakar bahkan saat musim kemarau. Karena kesengajaan yg terjadi oleh oknum-oknum yang bersangkutan, mereka membuat parit-parit untuk mengeringkan gambut dan membakarnya. Hal ini membuat tanah di hutan menjadi kering dan vegetasi penyubur tanah pun hangus. Apabila tanah menjadi kering makan tanah tersebur akan sukar untuk ditanami. Maka kesuburan tanah pun akan bekurang. Dan petani tersebut akan menggunakan zat kimia secara berlebihan untuk menyuburkan tanah. Apabila zat kimia penyubur tanah diberikan secara berlebihan hal ini tidak akan baik untuk kesuburan tanah selanjutnya. 
Kerugiannya adalah vegetasi tanah akan berkurang seperti tanah akan menjadi mampat (mengeras) karena kehilangan unsur hara organik, dan hewan-hewan yang dapat menguraikan unsur hara organik mati.

          3. Pohon-pohon besar yang tumbang
untuk membakar hutan supaya dapat dijadikan lahan pertanian pohon-pohon besar yang terdapat di hutan pun akan ditumbangkan. Pohon yang seharusnya dapat hidup sekian tahun tersebut secara sengaja ditumbangkan. Kelangsungan hidup yang terjadi pun juga akan terganggu. Jika hal ini terus terjadi pembakaran hutan terjadi secara terus menerus dan tidak diimbangi dengan perbaikan yang sepadan kita akan kehilangan wilayah hijau yang dapat menghasilkan oksigen dan sumber daya alam. Memang saat ini hal tersebut menghasilkan hasil yang sangat banyak, tapi kerugian yang terjadi akan jau lebih besar. 
Kerugiannya adalah lahan pertanian yang ada dijadikan bangunan dan pemukiman sementara hutan yang semestinya menjadi tempat makhluk hidup lain untuk hidup justru digunakan, dibakar untuk memperluas lahan pertanian, dimasa yang akan datang, generasi kita pun hanya akan menganggap bahwa hutan itu hanyalah dongeng belaka karena masa yg akan datang mereka tidak dapat menemukan hutan. Ketiadaan hutan pun akan mengakibatkan banyak kerugian. Antara lain banjir, tanah longsor, pemanasan global, suhu yang bertambah tinggi.

        4. Kebutuhan air bersih tidak dapat terpenuhi
hutan merupakan wadah penahan air ysng sangat diperlukan dalam kelangsungan hdup. Apabila hutan secara terus menerus dihabiskan, secara otomatis tidak ada yang bisa menahan air baik air hujan maupun air kiriman dari pegunungan. Keberadaan air dan hutan itu berbanding lurus. Jikan hutan semakin menipis, maka tak ada yang bisa menampung air akibatnya adalah cadangan air tanah (artesis) berkurang. Apabila hal ini terus terjadi, maka makhluk hidup akan kesulitan untuk mendapatkan air bersih. 
Kerugian yang ditimbulkan dari kurangnya air bersih antara lain kesehatan masyarakat akan terganggu, terganggunya siklus air sehingga berpengaruh pada perubahan iklim seperti kemaru yang berkepanjangsan dan siklus hujan yang tidak menentu.

         5. Kesehatan masyarakat
karena asap yang terjadi akan mengganggu kesehatan masyarakat. Penyakit seperti ISPA, kanker, asma, penyakit kulit dan lain-lain. Selain jatuh korban penderita ISPA, Pneumoni,dll  seorang warga Kabupaten Kepulauan Meranti Muhammad Adli (63 tahun), meninggal setelah mengalami luka bakar di punggung, diduga akibat terjatuh di lahan gambut yang terbakar. 
Kerugian yang ditimbulkan akan banyak generasi muda yang meniggal. Sehingga kita akan kehilangan generasi muda untuk membangun bangsa. Dana yang akan dikeluarkan pemerintah juga akan bertambah untuk membiayai pengobstan korban. Dana yang seharusnya digunakan untuk pembangunan daerah malah digunakan untuk dana tanggap bencana.
 

DAMPAK SOSIAL EKONOMI

         1. Kegiatan perekonomian masyarakat terganggu
hal ini dapat terjadi karena asap polusi dari pembakaran hutan di riau sangat tebal sehingga menghambat masyarakat untuk melakukan transaksi ekonomi. 
Kerugian:  Hal ini dapat merugikan masyarakat karena dapat mengurangi penghasilan masyarakat yg bekerja swasta. Dan bagi instansi daerah juga menghambat kegiatan dari pemerintah daerah dalam menjalankan pembangun daerah.

         2. Transportasi terganggu
pembakaran hutan yang terjadi di Riau mengakibatkan asap yg sangat pekat sehingga terjadi kemacetan yg panjang karena jalan yg tidak bisa dilewati karena tertutup oleh asap tebal. Jarak pandang pengendara yang sangat terbatas (300m) juga dapat mengakibatkan kecelakaan. Kerugian dari terganggunya transportasi ini adalah waktu yg dibutuhkan untuk menuju suatu tempat akan lebih lama dari biasanya, terjadi banyak kecelakaan pun membuat masyarakat yg menjadi korban harus menjalani pengobatan dan mengeluarkan biaya yg cukup banyak. Tidak hanya transportasi darat tetapi transportasi udara pun juga terhambat. Pesawat dari luar daerah tidak dapat mendarat di bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau karena asap yang sangat tebal menghalangi pendaratan pesawat maupun penerbangan pesawat. 
Kerugian yangditimbulkan adalah kerugian secara nominal(finansial) bagi bandara yang tidak dapat beroperasi dan kecelakaan serta menghambat kegiatan penduduk. Kerjasama bilateral pun juga akan terganggu karena pesawat delay hingga batas waktu yang ditentukan. Secara tidak langsungitu juga merugikan bagi daerah Riau maupun bagi negara.

         3. Kegiatan pertanian masyarakat terhambat
akibat selanjutnya dari pembakaran hutan ialah di sektor pertanian. Kegiatan pertanian dapat terganggu karena pembakaran hutan yg terjadi. Karena asap yg diakibatkan oleh pembakaran hutan menghalangi masyarakat untuk bekerja di sawah mereka. Dan tanaman padi pun akan layu karena tidak mendapatkan sinar matahari yang cukup. 
Kerugiannya adalah kekurangan bahan pangan. Apa bahan pangan tidak dapat terpenuhi maka akan mengakibatkan kelaparan yang berkepanjangan dan pengeluaran pemerintah daerah akan semakin bertambah untuk membeli bahan pangan dar luar daerah.

         4. Produktifitas Menurun
pembakaran hutan yang disengaja dapat menimbulkan efek domino bagi masyarkat disekitarnya. Salah saru dari dampak pembakaran hutan di Riau mengakibatkan produktifitas pertanian menurun. Memang pembakarn hutan ini bertujuan untuk ekspansi tanah pertanian, tetapi pembakaran ini memiliki kerugian yg teramat sangat fatal. Karena asap yang ditimbulkan, tanaman yang seharusnya dapat berfotosintesis menjadi terhambat, tanaman juga akan kesulitan untuk mencari air atau unsur hara karena cadangan air tanah menipis. Kerugian dari menurunnya produktifitas ini adalah berkurangnya pendapatan masyarakat dan kerugian secara nominal bagi daerah Riau san sekitarnya.

 DAMPAK FISIK DAN KIMIA

            1. Dampak pada kualitas udara
polusidari hasil pembakaran hutan(secara sengaja) jauh lebih berbahaya dibanding hutan yang terbakar secara alami, karena terdapat zat-zat kimia di dalamnya seperti karbon monoksida (CO) dan Aldehid. 
Kerugian dari asap polusi yang ditimbulkan adalah kesehatan masyarakat yang terganggu, menghambat tumbuhan untuk dapat berfotosintesis.
Selain itu akibat merugikan dari ozon, Nitrogen oksida, Karbon dioksida, dan Hidrokarbon. berbagai jenis zat dapat terbang jauh dan dalam transportasi ini dikonversikan menjadi gas lain seperti ozon, atau berubah menjadi partikel seperti spesies nitrat dan oksigen organik. Lapisan ozon juga dapat robek akibat zat-zat kimia tersebut. Apabila lapisan ozon robek, suhu di muka bumi pun akan naik, terjadi pemanasan global, dan dapat mencairkan es kutub pula. Selain itu, sinar ultra violet akan langsung terpancar ke bumi (tidak ada yang menghalangi). Hal ini juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat seperti kanker kulit karena sinar ultraviolet. Keruguan selanjutnya adalah efek rumah kaca yang ditimbulkan. Karena asap yang ditimbulkan menghalangi panas yang memantul dari biosfer. Sehingga panas akan memantul kembali ke permukaan dan tidak bisa keluar karena terpantul oleh asap yang ada. Apabila hal ini terus dibiarkan efek rumah kaca yang terjadi dapat mencairkan es di kutub, apabila hal ini terjadi, daratan dapat tenggelam.

          2. Dampak pada cuaca
Kondisi cuaca yang kering di Riau berpotensi menyebabkan titik api yang sebelumnya sudah kecil di bagian bawah gambut kembali memicu kebakaran hutan dan lahan. Selain itu, adanya pembakar lahan dan hutan baru yang disengaja juga ikut membuat titik api meluas. karena pembakaran yang terjadi maka suhu di sekitarnya akan bertambah. 
Kerugian dari kebakaran hutan secara luas di Provinsi Riau telah menyebabkan pemanasan global dan meningkatnya suhu bumi.  Karena suhu bertambah, penguapan yang terjadi akan membesar dan hujan pun akan terjadi, kerugiannya adalah karena air tidak dapat tertahan, banjir pun dapat terjadi.

DAMPAK SOSIAL

         1. Mengganggu daerah sekitar
Yang paling parah terkena dampak kabut asap Riau adalah Riau sendiri, kemudian daerah tetangga seperti Sumatera Barat dan Sumatera Selatan. Kabarnya daerah tetangga pun jugs terkena asap dari pembakaran di hutan Riau. 
Kerugian yang terjadi pun akan mengganggu hubungan kerjasama antar negara atau daerah karena asap yg terjadi menghambat kerja sama antar daerah atau negara. Hubungan politik antar negara pun juga dapat tergangg karena negara tetangga akan menganggap Indonesia amatir dalam mengelola negara.

                  2. Bahan pangan yang terbatas
karena terbatasnya masyarakat untuk beraktifitar di luar rumah atau daerah, maka kegiatan bercocok tanam masyarakat pun terhambat. Bukan hanya karena masyarakat yang tidak bisa melakukan kegiatan aktifitas cocok tanam seperti biasa tapi karena tumbuhan yang tumbuh tidak dapat optimal/mati/layu. 
Kerugian dari hal ini akan menimbulkan kurangnya bahan pangan bagi masyarakat. Karena stok pangan yang diberi pemerintah pun juga terbatas dan tidak mencapai daerah-daerah pedalaman. Kerugian dari kurangnya bahan pangan tsb adalah kelaparan yang perkepanjangan dapat menimbulkan kematian.(tribun)