Jumat, 20 Agustus 2021

TEKNIS PEMBUATAN PESEMAIAN TANAMAN PINUS

 


TEKNIS PEMBUATAN PESEMAIAN TANAMAN PINUS

Tanaman Pinus

Pinus merkusii

Persemaian (nursery) adalah tempat atau areal untuk kegiatan memproses benih (atau bahan lain dari tanaman) menjadi bibit/semai yang siap ditanam di lapangan. Kegiatan di persemaian merupakan kegiatan awal di lapangan dari kegiatan penanaman hutan karena itu sangat penting dan merupakan kunci pertama di dalam upaya mencapai keberhasilan penanaman hutan. Peluang bibit untuk bertahan dan dapat tumbuh dengan baik di lapanganan dipengaruhi oleh kesehatan dan kekuatan, ketika mereka ditanam. Bibit yang sehat, proporsi yang seimbang dan pertumbuhan yang bagus mempunyai peluang kelangsungan hidup yang tinggi dibanding bibit yang lemah dan stres. Kemampuan hidup yang lebih baik dari bibit yang berasal dari pesemaian disebabkan oleh 4 faktor utama, yaitu:

 

1. Di lapangan biasanya benih sering gagal untuk menyelesaikan perkecambahan karena lingkungan yang merugikan (kekeringan, banjir) atau diserang oleh patogen;

2. Kerusakan oleh pemangsa benih cukup tinggi di lapangan;

3. Benih yang baru berkecambah dan bibit kecil seringkali tertekan oleh vegetasi lain, contohnya gulma herbal, di mana mereka akan berkompetisi;

4. Di persemaian dapat mengendalikan perkecambahan dan lingkungan pertumbuhan, sehingga bibit mempunyai peluang optimal untuk bertahan pada tahapan yang kritis dan masalah pemangsaan biasanya kecil dibanding di lapangan.

 

Penanaman benih ke lapangan dapat dilakukan secara langsung dan secara tidak langsung yang berarti harus disemaikan terlebih dahulu di tempat persemaian. Penanaman secara langsung ke lapangan biasanya dilakukan apabila biji-biji (benih) tersebut berukuran besar dan jumlah persediaannya melimpah. Meskipun ukuran benih besar tetapi kalau jumlahnya terbatas, maka benih tersebut seyogyanya disemaikan terlebih dulu.

Pembangunan persemaian desa/kebun bibit desa merupakan bagian penting dalam upaya rehabilitasi Daerah Tangkapan Air (DTA), karena melalui persemaian akan diproduksi bibit yang kelak akan digunakan dalam kegiatan penanaman pada areal DTA bersangkutan. Tujuan dibangunnya persemaian desa antara lain:

a)     Meminimalkan kerusakan bibit akibat pengangkutan,

b)    Mendekatkan bibit dengan lokasi penanaman,

c)     Memberi percontohan teknik persemaian kepada masyarakat ketika akan mengembangkan jenis-jenis     bermanfaat ke depan,

d)    Peningkatan SDM masyarakat dalam bidang pembibitan. Secara umum pembangunan persemaian akan mencakup beberapa tahap sebagai berikut:

1.     SOSIALISASI DAN KOORDINASI

Sosialisasi dan Koordinasi  Semua kegiatan yang akan melibatkan peran serta masyarakat dan pemerintahan desa harus diawali dengan kegiatan sosialisasi dan koordinasi. Telah disepakati bahwa sosialisasi dan koordinasi merupakan ujung tombak yang sangat penting bagi keberhasilan suatu kegiatan, termasuk kegiatan pembibitan yang akan digunakan untuk rehabilitasi Daerah Tangkapan Air. Pada tahap awal perlu dilakukan koordinasi dengan pihak terkait, khususnya pemerintah desa tentang rencana kegiatan dimaksud, dalam hal ini kegiatan pembibitan desa. Setelah terdapat kesepahaman dengan instansi terkait dan pemerintah desa, maka tahap selanjutnya adalah melaksanakan sosialisasi rencana kegiatan secara detil baik kepada tokoh masyarakat, perwakilan masyarakat, kelompok tani, pemerintah desa dan pihak terkait lainnya. Beberapa topik penting yang dapat diinformasikan dalam sosialisasi maupun rapat-rapat lanjutan lainnya dengan masyarakat, antara lain:

a.  Penyampaian tentang pengertian, maksud, dan tujuan kegiatan pembibitan desa

b.  Penyampaian tentang rencana kelembagaan dalam membangun kebun bibit desa (dalam hal ini pengelolaan kegiatan akan dikelola oleh kelompok tani)

c.  Penyampian kesepakatan pengadaan bibit, apakah bibit akan dibeli atau dibuat. Namun sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat, maka sangat direkomendasikan pembibitan dilakukan dengan cara membuat sendiri dalam bentuk pembangunan Kebun Bibit Desa/Nagari.

d.  Pembahasan Rancangan Anggaran Biaya (RAB) pembibitan.

Dalam RAB tersebut dibahas tentang kompoenen-komponen mana yang dapat diswadayakan / digotongroyongkan dan komponenkomponen yang dibiayai.

e.  Membahas tentang kesepakatan jadwal kerjabakti kelompok tani dalam pengelolaan kebun bibit desa. Kerjabakti penting dilaksanakan agar suatu kegiatan merupakan milik bersama dan menjadi tanggung jawab bersama. Kerjabakti dapat dilaksanakan secara mingguan.

f.   Membahas rencana lokasi pembibitan

g. Mendapatkan informasi dari masyarakat tentang jenis-jenis tanaman unggulan setempat/lokal khususnya tanaman pohon MPTS (Multi Purpose Trees Species) yaitu pohon penghasil non kayu (penghasil buah, getah, kulit, resin, dan pohon penghasil non kayu lainnya) yang bernilai ekonomis, telah dikenal masyarakat, dan tumbuh baik di wilayah tersebut.

h. Pembahasan penetapan jenis yang akan dikembangkan Pemilihan jenis tanaman yang akan dikembangkan pada masing-masing persemaian desa berdasarkan pada beberapa pertimbangan, yaitu:

(a) Jenis yang dipilih memiliki fungsi dalam konservasi tanah dan air,

(b) Diminati oleh masyarakat karena memiliki nilai ekonomi,

(c) Memiliki kesesuaian tempat tumbuh. Jenis-jenis yang akan dikembangkan berdasarkan kecepatan tumbuh dan nilai ekonominya.

 

2.  PENYIAPAN SARANA DAN PRASARANA PERSEMAIAN

A. Penetapan Lokasi Pembibitan

Lokasi Pembibitan Untuk memperoleh mutu bibit yang baik, dan mengurangi resiko kerusakan bibit ke lokasi penanaman, diperlukan persemaian dan Tempat Pengumpulan Sementara (TPS) yang sesuai kriteria dan standar mutu. Pembuatan persemaian dilakukan jika kebutuhan bibit diperoleh dengan cara membuat bibit (baik secara vegetatif maupun generatif), Lokasi pembibitan sebaiknya memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut:

Ø  Diutamakan lahan datar-landai, namun jika tidak terdapat lahan datar/landai maka areal untuk pembibitan dapat dibuat dalam bentuk teras-teras untuk meletakkan bedeng sapih.

Ø  Lokasi pembibitan dekat dengan lokasi penanaman, untuk mengurangi resiko kerusakan bibit saat pengangkutan dari lokasi pembibitan ke lokasi penanaman. Semakin jauh lokasi penanaman dari pembibitan maka akan semakin meningkatkan resiko kerusakan fisik saat pengangkutan.

Ø  Lokasi pembibitan bebas dari konflik kepemilikan lahan, karena kebun bibit yang akan dibuat bersifat semi-permanen hingga permanen, maka sebaiknya lokasi tidak memiliki permasalahan kepemilikan lahan di kemudian hari. Lahan disediakan masyarakat yang benar-benar secara sukarela menyediakan lahannya untuk kegiatan pembibitan. Dalam hal ini tidak salah jika perlu dibuatkan Surat Perjanjian antara pemilik lahan dengan Kelompok Tani Pengelola tentang peminjaman lahan untuk kegiatan pembibitan desa.

Ø  Lokasi pembibitan aman dari gangguan alam (banjir, tanah longsor, angin), hewan ternak, hewan liar, dan kemungkinan gangguan manusia.

Ø  Lokasi pembibitan dekat dengan sumber air.

Ø  Lokasi pembibitan memiliki akses jalan yang baik atau setidaknya mudah dijangkau dengan kendaraan sehingga memudahkan dalam proses pengangkutan bibit.

Ø  Lokasi pembibitan dekat dengan tenaga kerja dalam hal ini anggota kelompok tani pengelola pembibitan, sehingga memudahkan dalam kegiatan pembibitan, pemeliharaan dan pengamanan kebun bibit.

Bahan dan Peralatan Pembibitan Bahan dan alat yang diperlukan dalam pembibitan tanaman diuraikan sebagai berikut:

1.     Bahan Bahan-bahan yang perlu disiapkan dalam melakukan pembibitan antara lain: benih beberapa jenis tanaman yang akan dikembangkan, pestisida (khususnya fungisida dan insektisida), pasir halus, topsoil (lapisan tanah atas), pupuk kandang, sekam padi (dibuat arang sekam), plastik bening, paranet (naungan 65%), polybag (standar ukuran diameter 12 cm, untuk benih besar maka dapat digunakan polybag ukuran lebih besar misalnya diameter 15 cm).

2.     Peralatan Peralatan yang diperlukan antara lain: cangkul, sekop, ember plastik, gembor, sarung tangan, masker, timbangan, gelas ukur, handsprayer, selang air, gerobak dorong, karung, peralatan pengairan, tangki air, ayakan pasir, terpal, golok, gunting stek, Untuk spesies hutan lembab, bedeng tabur biasanya ditutupi oleh lembaran politen yang akan menjaga suhu dan kelembaban tinggi di dalam bedeng tabur. Lembaran politen secara sesuai ditempatkan pada kerangka kayu dan dapat dibuka serta, Bedeng Sapih  merupakan bedengan yang digunakan sebagai tempat untuk menyusun polybag berisi media tumbuh yang selanjutnya digunakan untuk penyapihan semai dan dipelihara hingga menjadi bibit siap tanam. Bedeng sapih dibuat dengan ukuran 1 m x 5 m, batas bedeng menggunakan bambu, jarak antar bedeng 1 m. Bedeng sapih sebaiknya dibuat memanjang menurut arah Utara-Selatan dengan tujuan agar ketika matahari terbit hingga terbenam dari arah Timur ke Barat dapat memberikan cahaya secara merata kepada bibit-bibit yang ditata dalam bedeng sapih.

3.      Naungan Persemaian, Fungsi utama dari konstruksi naungan adalah untuk melindungi bibit dari sinar matahari langsung. Terutama pada persemaian terbuka tanpa naungan dari pohon, perlu untuk membangun penutup yang teduh. Konstruksi naungan terdiri dari bahan atap yang ditopang oleh beberapa struktur dasar. Pada area yang rentan angin, strukturnya harus lebih kuat. Naungan dapat disediakan dengan jaring pelindung dari tikar rumput. Penetrasi cahaya yang cukup harus disediakan, dan harus bisa memindahkan bahan naungan ketika proses hardening bibit. Sebagai alternatif, bibit dapat dipindahkan keluar dari area naungan selama proses hardening. Jaring naungan persemaian (paranet) yang diperdagangkan biasanya berwarna hitam dan terbuat dari bahan sintetis dengan penetrasi cahaya sekitar 50%. Pohon peneduh alami dapat juga menyediakan naungan yang baik. Di Harapan, tanaman eksotik sengon (Paraserianthes falcataria) merupakan pohon peneduh yang sangat baik karena pertumbuhan yang cepat, tajuk melebar dan relatif terbuka, pohon sengon menyediakan naungan yang seragam dan tidak terlalu rapat. Pertumbuhan bibit saat masih kecil tidak tahan terhadap penyinaran cahaya matahari secara langsung, oleh karenanya perlu diberikan naungan. Untuk membuat naungan maka perlu tiang dan atap. Tiang dapat dibuat dari bambu yang tahan lama (misalnya bambu betung), kemudian bagian atapnya diberi naungan. Tinggi tiang disesuaikan agar tidak mengganggu saat orang berdiri (± 2 – 3 m), karena tiang yang terlalu rendah menyebabkan orang harus merunduk saat memasuki persemaian. Secara sederhana naungan dapat dibuat dari alang-alang, namun umumnya kondisi ini menghasilkan naungan yang tidak seragam terhadap semua bibit di bedeng sapih. Naungan persemaian menggunakan paranet naungan yang lebih gelap. Agar diperoleh naungan dengan pencahayaan yang seragam, maka sebaiknya digunakan paranet. Terdapat beberapa tingkat penutupan naungan paranet (75%, 65%, 50%, dll.). Untuk persemaian pada umumnya dapat digunakan paranet dengan tingkat naungan 65%, adapun untuk jenis meranti dapat menggunakan tingkat naungan lebih berat, misalnya 75%. Sedangkan jenis jenis yang pertumbuhannya membutuhkan cahaya penuh (jati, sengon, jabon, dll.), maka dapat menggunakan naungan 50% khusus untuk tanaman perkebunan seperti kakao, maka atap naungan perlu dilapis dengan plastik buram, hal ini dimaksudkan agar bibit kakao tidak terkena air hujan secara menerus, karena media bibit yang tergenang air dapat menyebabkan kematian bibit. Hal yang sama juga untuk bibit lada, agar dihindarijangan sampai media bibit lada tergenang air hujan terlalu lama.

4.     Sarana Perairan Air merupakan persyaratan penting dalam sebuah persemaian/kebun bibit. Oleh sebab itu persemaian harus dibuat tidak jauh dari sumber air, misalnya sungai dan sumber mata air. Jika sumber air berada di bagian atas persemaian, maka untuk mengalirkan air menuju penampung air/tangki air di persemaian tidak memerlukan alat jenset, namun sebaliknya akan menggunakan jenset jika sumber air berada di bawah areal persemaian. Sistem penyiraman yang baik merupakan hal yang penting untuk produksi tanaman di persemaian. Sumber air biasanya berupa sungai dan kolam permanen. Pompa elektrik atau yang berdasarkan bahan bakar mengambil air dari sumber menuju sistem pipa utama dan melalui sistem sprinkle menyemprotkan air ke seluruh tanaman. Agar sistem sprinkle dapat bekerja secara benar, pompa harus mempunyai kapasitas untuk menyediakan tekanan yang mencukupi. Bagian-bagian berbeda dari persemaian disiram bergantian dengan vent tertutup pada beberapa bagian ketika menyiram bagian yang lain. Sistem cadangan-air harus tersedia jikalau sistem irigasi rusak, yang pasti terjadi sekali-sekali.

5.     Gubuk Kerja Gubuk kerja merupakan bangunan sederhana berukuran 3 m x 4 m, beratap rumbia, dan bagian alas cukup tetap tanah (tidak perlu dilantai semen). Gubuk kerja digunakan untuk melakukan beberapa pekerjaan persemaian antara lain: pengayakan media, pengantongan media ke polybag, perlakuan benih, penyiapan bak kecambah plastik, penyiapan media kecambah, dll.

 

B.  Teknik Penyapihan

Penyapihan merupakan pekerjaan yang menentukan keberhasilan persemaian. Tingkat kematian pada penyapihan akan sangat tergantung dari Teknik penyapihan yang digunakan dan keterampilan yang dimiliki para pekerja. Pekerja dengan keterampilan tinggi akan memperoleh hasil yang lebih tinggi, baik dari segi jumlah kecambah yang disampih maupun dari persen jadi kecambah di kantong plastic tersebut. Penyapihan tidak boleh dilaksanakan pada sore hari, karena kecambah akan memiliki waktu selama 1 malam untuk menyesuaikan diri. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyapihan, yaitu:

a)     untuk penyeleksian kecambah hanya dipilih yang bagus dan umurnya memenuhi 

b)    pengambilan kecambah memakai soled

c)     setiap kali pengambilan kecambah jangan terlalu banyak.

d)    dijaga kelembabannya dengan menggunakan ember berisi air atau pelepah pisang

e)     media disiram dahulu sampai penuh.

f)     media dilubangi menggunakan stikg.

g)    posisi akar kecambah jangan sampai tertekuk. Untuk jenis tertentuyang akarnya sudah banyak bisa dilakukan pengurangan

h)    lubang ditutup kembali menggunakan soled sampai tidak ada rongga yang tersisa.

i)      media disiram kembali 

j)      diberi nauangan

 

 Pelaksanaan Penyapihan

a)     Kumpulkan kecambah dari bak tabur kedalam wadah yang diberi air secukupnya. Catatan: hanya kecambah yang baik saja yang disampih.

b)    Buat lubang pada media di kantong plastik, dengan tongkat kecil sedalam panjang akarkecambah lebih sedikit agar kecambah jangan sampai terlipatwaktu memasukkan

c)     Masukkan akar kecambah secara hati-hati kemudian lubang ditutup denganmedia dengan media dengan tongkat kecil lagi, agar semai dapat berdiri lebihkuat lagi, media pada pangkal batang semai ditekan dengan ibu jari dan jaritelunjukd

d)    Sampih disiram dua kali sehari pagi dan sore sejak tanaman disampih sampaiakan ditanam dilapangan

  

Pemeliharaan Persemaian

1.     Naungan Bedeng Sapih

Naungan bedeng sapih diperlukan, terutama pada saat awal penyapihan. Kebutuhan naungan untuk setiap jenis tanaman berbeda-beda tergantung dari kebutuhan tanaman rotan yang memerlukan naungan lebih berat karena kepekaannya terhadap sinar matahari.

 

2.     Penyiraman 

Penyiraman dilakukan sebanyak dua kali sehari, yaitu pada saat pagi dan sore hari. Penyiraman di pagi hari harus sudah selesai pada pukul 10 pagi, sedangkan pada sore hari penyiraman bisa dilakukan mulai pukul 3 sore. Penyiraman pada waktu terik matahari dapat menyebabkan kematian pada bibit. Semai harus disiram sampai jenuh, Penyiraman yang kurang memenuhi syarat akan sangat mengganggu pertumbuhan semai.


 

3.     Penyulaman

Penyulaman dilakukan sesegera mungkin setelah penyapihan jika sudah diketahui ada kematian tanaman pada saat penyapihan. Penyulaman kedua dilakukan pada saat bi bit sudah mulai besar, dengan cara memisahkan kantong plastic.

 

4.     Penyiangan Rumput

Rumput merupakan penggangu utama pekerjaan persemaian. Pembersihan rumput harus dilakukan seawal mungkin sehingga rumput belum tumbuh meninggi. Mencabut rumput yang terlanjur besar/tinggi akan merusak media dan semai itu sendiri. Rumput yang tumbuh diluar kantong plastic dapat dikendalikan dengan herbisida namun dengan catatan pada waktu penyemprotan tidak sampai mengangu semai.

 

Seleksi

Tujuan dari seleksi ada tiga yaitu:

a)     memberikan ruang tumbuh yang sama pada tiap semai caranya adalahmengumpulkan semai dengan ketinggian yang sama. Jika selaksitidak dilaksanakan, semai yang tertekan tidak akan tumbuh maksimal bahkan mungkin mengalami kematian 

b)    seleksi kualitas semai dengan cara memisahkan semai yangkualitasnya tidak memenuhi syarat, seperti misalnya bengkok atau pertumbuhannya merana.

c)     Memisahkan kantong plastik kosong atau semai yang berpenyakit

 

Perlindungan Terhadap Hama Penyakit

Hama penyakit selalu ada di dalam persemaian. Jika hama dan penyakit tersebut dapat diatasi secara maksimal, maka tidak perlu dilakukan penyemprotan. 

Misalkan dengan cara seleksi seperti diatas atau manual mematikan hama yang kita dapati pada saat pembersihan rumput. Jika intensitas serangan semakin tinggi, diperlukan penanggulangan melalui penyemprotan menggunakan insektisida untuk hama atau fungsisda untuk penyakit yang disebabkann oleh jamur.

 

Pemotongan Akar dan Daun

Untuk jenis tertentu diperlukan pemeliharaan berupa pemotonganakar dan daun. Pemotongan akar dimaksudkan agar akar semai tidak tembuske tanah. Akar harus segera dipotong jika keluar dari kantong plastik.

 

Umur persemaian sekitar 8–10 bulan. Ciri utama siap tanam adalah keluarnya pucuk yang menyerupai ekor tupai. Pinus adalah jenis tanaman yang memerlukan mikorisa untuk dapat tumbuh baik. Mikorisa adalah sejenis jamur yang hidup diakar

pohon. Fungsi jamur ini adalah untuk membantu pohon pinusdalam memproses hara didalam tanah agar bisa masuk ke dalam jaringan tanaman. Tanpa mikorisa, kemampuan akar pinusmenyerap makanan sangat rendah, sehingga tanaman akan

tumbuh merana. Mikorisa banyak tersedia pada tanah dibawah tegakan pinus, sehingga top soil untuk persemaian pinus harusdiambil dari bawah tegakan pinus. Pada dasarnya, tanah daritegakan pinus yang dibutuhkan tidak terlalu banyak. Sejumputtanah pun cukup jika dalam sejumput tanah tersebut sudah mengandung mikorisa. Mikorisa akan berkembang biak dengan sendirinya.

 

GEJALA SERANGAN PENYAKIT

Biasanya tumbuhan yang terserang penyakit menunjukkan gejala yang khusus. Gejalanya adalah perubahan-perubahan yang ditunjukkan oleh tumbuhan itu sendirisebagai akibat adanya penyakit.Bentuk-Bentuk gejala dapat berupa:

1.         Matinya bagian tumbuhan (bercak-bercak/noda)

2.         Hidrosis (kebasah-basahan)

3.         Klorosis (menguningnya bagian-bagian yang berwarna hijau)

4.         Layu

5.         Gosong

6.         Mati pucuk

7.         Busuk

8.         Rebah semai ( damping off )

9.         Kanker

10.       Pendarahan (pengeluaran cairan)

11.       Pertumbuhan yang tidak normal (kerdil), dan lain-lain

 

Pemupukan dapat dilakukan apabila:

1.     Pemupukan pertama/pupuk dasar diberikan pada saat pencampuran mediasemai (top soil dan kompos) dengan menggunakan pupuk TSP/SP dengan doses3 kg/m3 media semai.

2.     Apabila selanjutnya pada bibit terdapat gejala kekurangan unsur hara (daun menguning, kurus, dan lain-lain) diberikan pupuk-lanjutan setiap 10 hari sekali,sampai umur bibit siap tanam dengan menggunakan pupuk ZA dengan dosis 1gram/plc, aplikasi pada akar bibit atau Gandasil D dengan dosis 10 gram/10 literair, aplikasi pada daun bibit atau komplesal

3.     Dengan dosis 1 sendok teh per 6 liter air, aplikasi pada akar/daun bibit.

 

 

LOKASI PEMBIBITAN


   

Pembuatan bedeng sapih



 
Pemasangan tiang naungan






Pem
Pemasangan naungan


nganPem

P

Pembuatan gubuk kerja

g


Kamis, 15 Juli 2021

MANFAAT DAN TEKNIS PEMBUATAN INSTAN JAHE

MANFAAT JAHE DAN TEKNIS PEMBUATAN INSTAN JAHE


Manfaat Jahe dalam Makanan dan Minuman Saat ini pangan telah diandalkan sebagai pemelihara kesehatan dan kebugaran tubuh. Bahkan bila dimungkinkan, pangan harus dapat menyembuhkan atau menghilangkan efek negatif dari penyakit tertentu. Dari sinilah lahir konsep pangan fungsional (functional foods), yang akhirakhir ini sangat populer di kalangan masyarakat dunia. Pangan fungsional merupakan produk pangan yang memberikan keuntungan terhadap kesehatan. Pangan fungsional dapat mencegah atau mengobati penyakit (Goldberg, 1994). Definisi pangan fungsional menurut Badan POM adalah pangan yang secara alamiah maupun telah melalui proses, mengandung satu atau lebih senyawa yang berdasarkan kajian-kajian ilmiah dianggap mempunyai fungsi-fungsi fisiologis tertentu yang bermanfaat bagi kesehatan, 14 – Budidaya dan Teknologi Pascapanen Jahe serta dikonsumsi sebagaimana layaknya makanan atau minuman, mempunyai karakteristik sensori berupa penampakan, warna, tekstur dan cita rasa yang dapat diterima oleh konsumen. Selain tidak memberikan kontraindikasi dan tidak memberi efek samping pada jumlah penggunaan yang dianjurkan terhadap metabolisme zat gizi lainnya. Rempah-rempah umumnya mengandung komponen bioaktif yang bersifat antioksidan (zat pencegah radikal bebas yang menimbulkan kerusakan pada sel-sel tubuh), dan dapat berinteraksi dengan reaksi-reaksi fisiologis, sehingga mempunyai kapasitas antimikroba, anti pertumbuhan sel kanker, dan sebagainya. Dari kelompok bahan pangan rempah-rempah, jahe merupakan komoditi yang paling banyak digunakan dan berpotensi dikembangkan sebagai pangan fungsional. Luasnya penggunaan jahe disebabkan karena aroma yang khas, dapat diterima, dan dinikmati dalam lauk, kue, manisan, permen, maupun minuman. Jahe merupakan jenis rempah-rempah yang mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi karena rimpangnya paling banyak digunakan baik sebagai bumbu dalam berbagai resep makanan, pemberi rasa dan aroma pada makanan seperti roti, kue, biskuit, kembang gula maupun sebagai bahan dasar dalam pembuatan minuman. Jahe juga digunakan pada industri obat, minyak wangi, industri jamu tradisional atau diolah menjadi asinan jahe dan acar, lalap, bandrek, sekoteng dan sirup. Di Jepang, rebung atau tunas jahe dijadikan bahan sayur, acar, atau asinan. Hasil olahan itu sangat populer karena aroma dan cita rasanya yang khas. Terhadap tubuh, makanan dari rebung jahe membantu menyehatkan badan, memperlancar air seni, dan memperbaiki sistem pencernaan. Di Indonesia, mungkin baru orang Manado yang memanfaatkan rebung jahe sebagai salah satu pendamping nasi untuk lalapan didampingi sambal pedas. Cara memakannya selalu diikuti dengan meminum saguer (semacam tuak). Terkadang rebung jahe terlebih dahulu dimasukkan ke dalam saguer, dan supaya awet ke dalamnya diberi sedikit garam. Lalapan ini dipercaya dapat membuat tenaga menjadi berlipat ganda. Efek Farmakologis Jahe Rimpang jahe sudah digunakan sebagai obat di negara-negara Asia termasuk Indonesia, Cina, Arab dan India. Secara turun temurun jahe biasa digunakan masyarakat sebagai obat masuk angin, gangguan pencernaan, sebagai analgesik, antipiretik, anti-inflamasi, menurunkan kadar kolesterol, mencegah depresi, impotensia dan lain-lain. Di Cina jahe sudah digunakan secara intensif sejak lebih dari 2500 tahun yang lalu untuk mengobati sakit kepala, mual/muntah dan batuk (Grant and Lutz, 2000). Menurut Farmakope Belanda, Zingiber rhizoma yang berupa rimpang mengandung 6% bahan obat-obatan yang sering dipakai sebagai rumusan obat-obatan atau sebagai obat resmi di 23 negara. Menurut daftar prioritas WHO, jahe merupakan tanaman obat-obatan yang paling banyak dipakai di dunia. Di negara Malaysia, Filipina dan Indonesia telah banyak ditemukan manfaat therapeutis. Jahe juga dapat digunakan pada obat tradisional sebagai obat sakit kepala, obat batuk, masuk angin, untuk mengobati gangguan pada saluran pencernaan, stimulansia, diuretik, rematik, menghilangkan rasa sakit, obat anti mual dan mabuk perjalanan, kolera, diare, sakit tenggorokan, difteria, neuropati, sebagai penawar racun ular dan sebagai obat luar untuk mengobati gatal digigit serangga, keseleo, bengkak, serta memar. Budidaya dan Teknologi Pascapanen Jahe - 15 a. Anti Inflamasi, Antioksidasi dan Anti Kanker Hasil uji farmakologi menunjukkan bahwa jahe mempunyai aktivitas sebagai anti inflamasi. Uji laboratorium menunjukkan bahwa ekstrak jahe dalam air panas menghambat aktivitas siklooksigenase dan lipoksigenase sehingga menurunkan kadar prostaglandin dan leukotriena (mediator inflamasi). Pemberian secara per oral dari ekstrak jahe pada tikus menurunkan bengkak. Hasil penelitian membuktikan bahwa secara in-vitro komponen aktif pada jahe dapat digunakan sebagai anti inflamasi (Kiuchi et al., 1982; Mascolo et al., 1989). Kemampuan sebagai antioksidan dan anti inflamantori jahe ini berkontribusi terhadap aktivitasnya sebagai antikarsinogenik dan antimutagenik. Antioksidan merupakan senyawa berberat molekul kecil yang dapat bereaksi dengan oksidan sehingga reaksi oksidasi yang merusak biomolekul dapat dihambat (Langseth, 1995). Beberapa macam penyakit yang disebabkan oleh oksidan seperti kardiovaskular, kanker, dan katarak dapat dihambat oleh antioksidan (Supari, 1996). Kebanyakan efek membahayakan yang potensial dari oksidan berasal dari spesies oksigen reaktif (ROS) seperti radikal bebas, yang dapat berasal dari polusi, debu, maupun diproduksi secara kontinyu sebagai konsekuensi metabolisme normal. Jahe mengandung komponen kimia turunan fenol yang dapat bersifat sebagai antioksidan, antara lain gingerol dan zingeberon. Senyawa-senyawa ini mampu menginaktifkan atau menetralisir Reactive Oxygen Species, penyebab stress oksidatif dalam tubuh, sehingga tidak sempat bereaksi dengan komponen-komponen biologis baik seluler, subseluler, sel imun, molekuler maupun jaringan. Senyawa-senyawa antioksidan jahe ini mempunyai aktivitas antioksidan di atas vitamin E (Kikuzaki and Nakatani 1993). Konsumsi jahe setiap hari dapat meningkatkan aktivitas sel T dan daya tahan limfosit terhadap stres oksidatif (Nurrahman et al., 1999). Antioksidan dari jahe dapat diekstraksi dengan menggunakan pelarut diklorometan ataupun etanol. Penelitian yang dilakukan oleh Kikuzaki dan Nakatani (1993) menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan ekstrak diklorometana jahe fraksi 1 sampai 11 yang dipisahkan dengan kolom kromatografi dan HPLC dan a-tokoferol lebih besar dibandingkan ekstrak etanol jahe. Antioksidan jahe juga dapat diekstraksi dengan menggunakan air, meskipun aktivitas antioksidannya lebih kecil dari pada aktivitas antioksidan jahe yang diekstraksi dengan diklorometana. Hasil penelitian Septiana et al., (2002) menunjukkan bahwa ekstrak air jahe yang berasal dari jahe segar maupun ekstrak air jahe dari jahe bubuk dan ekstrak diklorometana jahe mempunyai aktivitas antioksidan terhadap asam linoleat terbukti dari kemampuannya dalam menghambat pembentukan malonaldehida. Hal ini memungkinkan untuk diperolehnya manfaat antioksidan dari jahe dengan cara mengkonsumsi sari jahe ataupun sirup jahe. Ekstrak diklorometana jahe yang mempunyai aktivitas antioksidan lebih besar (A = 0,113) dibandingkan ekstrak air jahe (A = 0,154 untuk ekstrak air dari jahe bubuk dan A = 0,149 untuk ekstrak dari jahe segar) mungkin disebabkan oleh kadar total fenol dari ekstrak diklorometana jahe lebih besar dibandingkan ekstrak air jahe. Kadar total fenol ekstrak diklorometana jahe, ekstrak air dari jahe segar, dan kadar total fenol dan ekstrak air dari bubuk jahe masing-masing adalah 18,68, 4,77 mg/g, dan 3,47 mg/g. Aktivitas antioksidan ekstrak 16 – Budidaya dan Teknologi Pascapanen Jahe diklorometana yang lebih besar dibandingkan ekstrak air jahe juga berhubungan dengan kadar Fe ekstrak diklorometana yang lebih kecil dibandingkan ekstrak air jahe. Kadar Fe ekstrak diklorometana jahe, ekstrak air dari jahe segar, dan ekstrak air dari jahe bubuk masing-masing adalah 2,4, 30,8 dan 32,0 mg/g (Septiana et al., 2002). Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa antioksidan fenolik pada jahe dapat digunakan untuk menghambat autooksidasi dari lemak dan minyak. Antioksidan ini dapat menangkap radikal bebas yang dihasilkan selama tahap propagasi dari lemak atau minyak dengan cara mendonasikan radikal hydrogen sehingga radikal lemak tidak aktif melaksanakan tahap propagasi yang akan merusak lemak. Beberapa hasil penelitian yang menunjukkan kemampuan jahe mencegah kanker adalah sebagai berikut: • Ekstrak alkohol dari jahe dengan konsentrasi 0.2-1 mg/ml dapat menghambat pertumbuhan sel tumor pada manusia dan harmster secara in-vitro (Unnikrishnan and Kuttan, 1988). • Beberapa komponen yang terdapat di dalam jahe dapat mencegah pertumbuhan kanker dengan cara mentransformasi sel kanker. Oleoresin jahe yang terdiri dari 6-gingerol, vaniloid dan 6-paradol dapat menekan proliferasi sel kanker pada manusia melalui proses apoptosis (Lee and Surh, 1998, Lee et al., 1998), serta dapat menurunkan viabilitas sel HL-60 (promyelocytic leukemia) pada manusia (Lee and Surh, 1998). • β-elemene adalah obat antikanker terbaru yang diekstrak dari tanaman jahe. Bahan ini dapat memicu apoptosis dari sel kanker paru-paru melalui pelepasan mitokondrial dari jalur apoptosi pada sitokrom-c (Shukla and Singh, 2007). • Derivatif gingerdion yaitu 1-(3,4-Dimetoksifenil)-3,5-dodesenedion efektif digunakan sebagai bahan antitumor pada sel leukemia manusia (Hsu et al., 2005). • Komponen zerumbone dari jahe mempunyai aktivitas sebagai antiproliferatif dan antiinflamasi (Takada et al., 2005). • Gingerol pada jahe juga mempunyai kemampuan untuk menekan pertumbuhan karsinogenesis pada kulit tikus (Katiyar et al., 1996, Park et al., 1998). • Jahe telah lama digunakan dalam mecegah berbagai penyakit pencernaan dan jahe juga mempunyai aktivitas sebagai bahan pencegah kanker usus (chemopreventive dan/atau chemotherapeutic) (Bode, 2003, Dias et al., 2006). • Pemberian ekstrak air panas dari jahe secara terus menerus pada tikus dapat mencegah perkembangan kanker payudara (Nagasawa et al., 2002). • Komponen bioaktif jahe dapat meningkatkan respons sitolitik dari sel Natural Killer (NK cell) dalam menghancurkan sel kanker b. Meningkatkan Sistem Kekebalan dan Daya Tahan Tubuh Ekstrak jahe dapat meningkatkan daya tahan tubuh yang direfleksikan dalam sistem kekebalan, yaitu memberikan respons kekebalan inang terhadap mikroba pangan yang masuk ke dalam tubuh. Hal ini disebabkan karena ekstrak jahe dapat memacu proliferasi limfosit dan menekan limfosit yang mati (Zakaria et al.1996) serta meningkatkan aktivitas fagositas makrofag (Zakaria dan Rajab 1999). Ekstrak jahe juga mampu meningkatkan aktivitas salah satu sel darah putih, yaitu sel natural killer (NK) dalam melisis sel targetnya, yaitu sel tumor dan sel yang terinfeksi virus (Zakaria et al., 1999). Studi pada mahasiswa yang diberi minuman jahe menunjukkan adanya perbaikan sistem imun (kekebalan tubuh) (Zakaria et al., 2000). Budidaya dan Teknologi Pascapanen Jahe - 17 Hasil penelitian mendukung keyakinan masyarakat bahwa jahe mempunyai kapasitas sebagai anti masuk angin, suatu gejala menurunnya daya tahan tubuh sehingga mudah terserang virus misalnya influenza. Peningkatan aktivitas sel NK membuat tubuh tahan terhadap serangan virus karena sel ini secara khusus mampu menghancurkan sel yang terinfeksi oleh virus. Dari hasil penelitian diketahui bahwa komponen bioaktif jahe yaitu oleoresin, gingerol dan shogaol dapat meningkatkan kadar glutation di dalam limfosit yang mengalami stress oksidatif. Glutation (γ-glutamil-sisteinil-glisin) adalah komponen non protein yang terdapat di dalam jaringan hewan dan sel-sel eukariotik, dan berperan dalam fungsi-fungsi sel seperti sintesis DNA dan protein, detoksifikasi komponen xenobiotik serta menjaga fungsi imun (Tejasari dan Zakaria, 2006). Jahe juga mempunyai aktivitas antiemetik dan digunakan untuk mencegah mabuk perjalanan. Komponen gingerol dan shogaol pada jahe juga mempunyai aktivitas antirematik sehingga jahe dapat berfungsi sebagai anti-inflamasi rematik arthritis kronis (Kimura et al., 1997). Hasil penelitian di Cina melaporkan bahwa pada 113 penderita rematik dan sakit punggung kronis yang disuntik 5 – 10% ekstrak jahe memberikan efek pengurangan rasa sakit, menurunkan pembengkakan tulang sendi. Pemberian secara per oral serbuk jahe pada penderita rematik dan musculoskeletal dilaporkan menurunkan rasa sakit dan pembengkakan. c. Menambah Nafsu Makan dan Memperbaiki Pencernaan Khasiat lain dari jahe adalah sebagai antiemetik (antimuntah) dan sangat berguna pada ibu hamil untuk mengurangi morning sickness. Suatu penelitian melaporkan bahwa jahe sangat efektif menurunkan metoklopamid senyawa penginduksi nusea (mual) dan muntah. Jahe dapat merangsang kelenjar pencernaan, baik untuk membangkitkan nafsu makan, memperkuat lambung, dan memperbaiki pencernaan. Hal ini dimungkinkan karena terangsangnya selaput lendir perut besar dan usus oleh minyak atsiri yang dikeluarkan rimpang jahe. Minyak jahe berisi gingerol yang berbau harum khas jahe, berkhasiat mencegah dan mengobati mual dan muntah, misalnya karena mabuk kendaraan atau pada wanita yang hamil muda. Jahe mampu memblok serotonin, yaitu senyawa kimia yang dapat menyebabkan perut berkontraksi, sehingga timbul rasa mual termasuk mual akibat mabok perjalanan. Mengunyah jahe dapat merangsang pengeluaran air liur dan cairan pencernaan, juga mengurangi mual dan muntah. Wanita hamil juga dianjurkan agar mengonsumsi jahe untuk menghilangkan rasa mual dan muntah selama kehamilan. Pembuktian ilmiah telah dilakukan di Inggris yang menunjukkan jahe efektif mengurangi mual bahkan mual yang timbul setelah operasi. Jahe juga dapat membuat lambung menjadi nyaman, meringankan kram perut dan membantu mengeluarkan angin. Rasa jahe yang tajam merangsang nafsu makan, memperkuat otot usus, membantu mengeluarkan gas usus serta membantu fungsi jantung. Enzim pencernaan yaitu protease dan lipase yang terdapat pada jahe juga membantu meningkatkan proses pencernaan.

Jahe dapat diolah menjadi berbagai produk yang sangat bermanfaat dalam menunjang industri obat tradisional, farmasi, kosmetik dan makanan/minuman. Ragam bentuk hasil olahannya, antara lain berupa jahe kering, simplisia, oleoresin, minyak atsiri, serbuk, asinan, manisan, anggur jahe , sirup jahe dan Instan Jahe.

Sejarah peradaban bangsa-bangsa di dunia ini menunjukkan bahwa berbagai upaya yang dilakukan berbagai bangsa untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya pada awalnya berbasis pada sumberdaya alam yang ada di sekitarnya. Demikian halnya dengan nenek moyang kita. Mereka telah mempunyai pengalaman panjang dan turun temurun dalam menyeleksi berbagai sumberdaya hayati disekitarnya, yang mereka anggap dan yakini bermanfaat bagi peningkatan kesehatan dan terapi penyakit. Seiring dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat yang alami, maka bahan pangan yang kini banyak diminati bukan saja bahan pangan dengan komposisi gizi yang lengkap serta dengan cita rasa dan penampilan yang menarik, tapi juga harus memiliki fungsi fisiologis tertentu bagi tubuh yang lazim disebut pangan fungsional. Kecenderungan masyarakat untuk mengkonsumsi makanan sebagai sumber zat gizi serta untuk menjaga kesehatan semakin meningkat baik di negara maju maupun negara berkembang termasuk Indonesia. Kecenderungan ini telah dimanfaatkan oleh industri farmasi dan makanan untuk mempromosikan produknya melalui pencatuman klaim kesehatan pada label produk ataupun iklannya. Berbagai jenis pangan fungsional yang beredar di pasaran seperti produk susu probiotik tradisional seperti yoghurt, kefir dan coumiss sampai produk susu rendah lemak siap dikonsumsi yang mengandung serat larut, serta produk yang mengandung ekstrak serat yang bersifat larut yang berfungsi menurunkan kolesterol dan mencegah obesitas. Untuk minuman tersedia berbagai minuman berkhasiat menyehatkan tubuh yang mengandung komponen aktif rempah-rempah seperti kunyit asam, sari jahe, sari temulawak, beras kencur dan bandrek. Kemajuan iptek pangan dan farmasi yang pesat telah memberikan bukti ilmiah bahwa sebagian besar jenis-jenis pangan yang diyakini nenek moyang kita bermanfaat untuk peningkatan kesehatan dan pengobatan. Sebagian besar zat-zat bioaktif bahan-bahan tersebut juga telah dapat diidentifikasi dan diisolasi. Salah satu jenis pangan yang zat-zat bioaktifnya sudah banyak diidentifikasi dan diisolasi serta sudah terbukti khasiatnya secara ilmiah untuk kesehatan dan pengobatan adalah jahe. 92 – Budidaya dan Teknologi Pascapanen Jahe Kebutuhan akan tanaman rempah termasuk jahe terus meningkat sejalan dengan munculnya kecenderungan untuk kembali ke alam dan adanya anggapan bahwa efek samping yang ditimbulkan obat-obat tradisional yang berasal dari rempah-rempah ini lebih kecil daripada obat-obatan sintesis. Produksi tanaman biofarmaka di Indonesia selama lima tahun terakhir meningkat cukup pesat

Dewasa ini telah banyak berkembang berbagai produk olahan dari jahe, mulai dari permen jahe, wedang jahe, manisan jahe, dan jahe instan. Diversifikasi produk ini berkembang pesat mengingat masyarakat menginginkan produk jahe yang mudah didapat dan praktis dikonsumsi.

Untuk skala rumah tangga, pembuatan jahe instan akan sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan anggota keluarga. Beberapa manfaat jahe instan untuk kesehatan antara lain adalah :

  • Menghangatkan tubuh
  • Meringankan influenza
  • Mengurangi nyeri haid

Terdapat beberapa jenis jahe yang umum dikembangkan di Indonesia, antara lain jahe merah, jahe putih kecil (jahe emprit) dan jahe putih besar (jahe gajah). Dengan perbedaan karakteristik dan manfaat dari tiap jenis jahe tersebut,  jahe yang seringkali diolah menjadi jahe instan adalah jahe merah. Dengan mengolah jahe menjadi jahe instan, jahe akan tahan lama dan siap diseduh sewaktu-waktu diperlukan. Alat dan bahan pembuatan jahe instan sangat murah dan mudah dijumpai.

Alat yang diperlukan dalam pembuatan jahe instan adalah :

  • Kompor
  • Wajan
  • Parut
  • Gelas ukur
  • Pengaduk

Sedangkan bahan yang diperlukan adalah :

BAHAN – BAHAN

1.     Jahe……………………….    1kg.

2.     Gula Pasir ………………..    1 kg.

3.     Air ……………………….     1 gelas

CARA PEMBUATAN

      1.    1 kg. Jahe dicuci lalu diparut

2.    Jahe yang telah diparut tambahkan dengan 1 gelas air lalu diperas dengan kain yang      bersih .

3.    Air perasan diendapkan +  30 menit

4.    Pisahkan pati dengan air perasan , ambil air perasan yang telah dipisahkan dengan pati tadi kemudian ditambah gula lalu direbus dan diaduk sampai rata dengan apinya sedang saja  sampai mengental.

5.    Setelah kekentalannya cukup lalu diangkat dari atas api terus diaduk sambil dikipasi dengan kipas angin / kipas manual sampai menjadi butiran-butiran kristal, dan diaduk sampai dingin, setelah dingin diayak kemudian dibungkus.

CARA MINUM

 1 sendok makan instan jahe disedu dengan 1 gelas air panas/air es atau menurut selera , siap dihidangkan.

 Cara pembuatan jahe instan cukup mudah. Langkah-langkah pembuatan jahe instan adalah sebagai berikut :

1. Pilih jahe yang baik dan sehat.

 Cuci jahe sampai bersih, kupas dan parut atau blender sampai halus. Bila perlu, dapat ditambahkan air untuk memudahkan proses pemblenderan.

3. Saring jahe yang telah diparut/diblender untuk memisahkan larutan dan ampasnya. Penyaringan dapat menggunakan kain bersih.

4. Larutan jahe yang telah terpisah dari ampasnya kemudian didiamkan sekitar 1 jam hingga pati jahe mengendap.

5. Pisahkan pati jahe dan cairan jahe. Bagian yang mengendap di dasar wadah dan berwarna putih adalah patinya. 

6. Buang pati jahe.

7. Rebus cairan jahe dengan api kecil, dan tambahkan gula. Aduk gula hingga larut dalam cairan jahe.

8. Dengan nyala api kecil, rebus larutan sambil terus diaduk hingga larutan mengkristal.

9. Setelah banyak terbentuk kristal maka proses pemasakan selesai.

10.Kristal-kristal jahe tersebut kemudian dihaluskan menjadi bentuk bubuk/serbuk. Dapat dilakukan dengan blender atau ditumbuk.

11.Simpan serbuk  jahe instan di tempat kering dan tertutup. Jahe instan  siap dikonsumsi sewaktu-waktu.


 


Cuci jahe sampai bersih, dan parut atau blender sampai halus. Bila perlu, dapat ditambahkan air untuk memudahkan proses pemblenderan.

 

Rebus cairan jahe dengan api kecil, dan tambahkan gula. Aduk gula hingga larut dalam cairan jahe




 



Rebus cairan jahe dengan api kecil, dan tambahkan gula. Aduk gula hingga larut dalam cairan jahe. Dengan nyala api kecil, rebus larutan sambil terus diaduk hingga larutan mengkristal

 

Kristal-kristal jahe tersebut kemudian dihaluskan menjadi bentuk bubuk/serbuk. Dapat dilakukan dengan blender atau ditumbuk

 Selamat mencoba dan semoga bermanfaat.


Kamis, 20 Mei 2021

 

GULLY PLUG BERBAHAN DARI BAMBU

 

Gully Plug adalah bangunan konservasi tanah sipil teknis yang berfungsi sebagai pengendali jurang, berupa bendungan kecil lolos air, dibuat pada parit-parit kecil melintang air berupa kayu/bambu.

Manfaat  pembuatan Gully Plug di antaranya adalah :

  • Memperbaiki lahan yang rusak akibat gerusan air sehingga terjadi jurang/parit
  • Mencegah meluasnya jurang dan parit
  • Mengendalikan erosi sedimen dari daerah hulu
  • Memperbaiki tata air di sekitarnya

Secara umum syarat suatu lokasi layak untuk pembuatan Gully Plug yaitu :

  • Lahan dengan kemiringan 30 %.
  • Daerah sekitar dikategorikan sebagai lahan kritis
  • Daerah tangkapan air 0,5 Ha – 10 Ha
  • Lebar dan kedalaman alur/parit/jurang maksimal 3 m X 3 m.
  • Panjang alur mencapai 250 meter.
  • Kemiringan alur maksimal 5 %.

Dalam kondisi tertentu pembuatan Gully Plug juga diperlukan, misalnya untuk penyelamatan fasilitas umum seperti jalan, jembatan atau bangunan umum yang terancam longsor karena berada di tepi tebing alur air, meskipun dengan memperhatikan kondisi alur dan luas daerah tangkapan air (catchment area) baru dapat ditentukan bangunan konservasi tanah apa yang seharusnya dibangun di lokasi itu, apakah cukup berupa Gully Plug atau harus berupa Dam Penahan.

Pembuatan Gully Plug dengan bronjong kawat dan batu membutuhkan biaya yang besar sehingga  relatif tidak dapat dijangkau oleh petani.  Karenanya perlu alternatif pembuatan Gully Plug dengan bahan baku yang murah dan mudah diperoleh di sekitar calon lokasi pembuatan.

Alternatif bahan pembuatan Gully Plug  yang mudah diperoleh dan murah salah satunya  adalah bambu.    Selain itu penggunaan bambu sebagai bahan baku pembuatan Gully Plug  diharapkan dapat mengatasi sulitnya memperoleh bahan baku batu dan kawat bronjong (karena kondisi lokasi pembuatan Gully Plug yang tidak ada batu atau jauh dari sumber batu. Atau jarak lokasi yang jauh dari jalan sehingga pengadaan batu menjadi tidak efisien atau karena kurangnya dana).

Salah satu syarat dalam pembuatan Gully Plug berbahan baku bambu yaitu dasar alur harus dapat ditancapi bambu sedalam minimal 30 cm dan akan lebih baik jika bisa sedalam 50 cm.   Dengan demikian jika kondisi dasar alur merupakan lempeng batuan keras yang tidak memungkinkan ditancapi bambu, maka pembuatan Gully Plug berbahan baku bambu tidak mungkin bisa dilaksanakan.

Beberapa prinsip yang diacu dalam pembuatan  pembuatan Gully Plug juga harus tetap di trapkan dalam pembuatan Gully Plug berbahan baku bambu, yaitu penempatan as bangunan tidak boleh pada belokan alur untuk mencegah gempuran air pada tebing yang berlawanan dengan arah belokan, panjang alur yang berada di bagian hulu bangunan Gully Plug yang akan berfungsi sebagai bak penampung sedimen harus memiliki panjang yang cukup, untuk Gully Plug dengan bentang atas 3 meter, panjang alur yang akan berfungsi sebagai bak penampung sedimen sebaiknya mencapai 30 meter dengan kemiringan maksimal 5 %.

Gully Plug dengan bahan baku bambu bisa dibuat berupa satu baris bambu yang ditancapkan vertikal berjajar rapat melintang alur.  Panjang batang bambu diatur sedemikian rupa dimana batang bambu yang dipancangkan di bagian pinggir dipotong sedemikian rupa sehingga setelah ditancapkan sedalam 50cm tinggi bagian atasnya sama dengan tinggi tebing alur.  Sedangkan bambu yang berada dibagian tengah yang akan berfungsi sebagai saluran pelimpah air dipotong sedemikian rupa sehingga jika ditancapkan sedalam 50 cm maka tinggi bagian atasnya lebih rendah 50 cm dari tinggi tebing alur.  Jumlah bamboo yang ditancapkan di bagian tengah alur yang akan berfungsi sebagai saluran pelimpah air menyesuaikan dengan lebar melintang dasar alur.

Yang harus diperhatikan dalam pembuatan Gully Plug berbahan baku bambu ini diantaranya adalah :

  • Bagian yang akan ditancapkan adalah bagian bonggol atau ruas bambu yang lebih bawah dan yang berada di sebelah atas haruslah yang pucuk atau ruas bambu yang lebih atas.
  • Bagian bawah bambu yang akan ditancapkan dipotong meruncing agar mudah ditancapkan.
  • Bambu ditancapkan sedalam 50 cm atau minimal 30 cm.
  • Bambu yang telah ditancapkan berjajar, diikat dengan kawat galvanis dengan diameter 5 mm dirangkai dengan bambu yang dipasang melintang untuk memperkuat jika tiba-tiba arus air besar atau ada sampah berukuran besar agar tidak rusak tak beraturan.
  • Lebih baik jika di bagian depan dari bambu yang telah ditancapkan juga ditempatkan ijuk yang telah disusun sedemikian rupa dengan bantuan belahan bambu dan kawat galvanis, sehingga semua bagan depan rangkaian bambu tersebut tertutupi oleh ijuk yang akan berfungsi menahan sedimen atau endapan lumpur/tanah yang tererosi dengan lebih baik, sehingga tidak ada sedimen yang menerobos Gully Plug berbahan bambu yang telah dibuat.
  • Harapannya Gully Plug yang telah dibuat itu nantinya akan tumbuh menjadi rumpun bambu, sehingga menjadi Gully Plug hidup. Jika sudah menjadi rumpun bambu perawatan yang harus dilakukan adalah memotong ranting yang menghalangi saluran pelimpah air, atau mengarahkannya ke samping dengan bantuan kawat galvanis agar saluran pelimpah air tetap berfungsi dengan baik.

Gambar 1.  Gambar Penampang Melintang Alur/ Jurang


 

Gambar 2.  Gambar Tampak Atas Gully Plug berbahan Baku Bambu Satu Baris


 

          Gambar 3.  Gully Plug Berbahan Bambu Lebar Dasar Alur 1 m Lebar Atas Alur 3 m Tinggi Tebing Alur 1,5 m Tampak Depan


 

 

Model lain pembuatan Gully Plug berbahan baku bambu adalah dengan dua baris bambu yang ditancapkan berjajar melintang alur air/jurang, satu baris di bagian depan ditancapkan condong searah arus air (kea rah hilir) dengan kemiringan sekitar 110-115 derajat dan satu baris bambu ditancapkan berjajar melintang alur/jurang condong berlawanan dengan arah aliran air dengn kemiringan sekitar 75-80 derajat.  Kedua baris bambu ditancapkan dengan kedalaman 0,5 m ke dalam tanah.  Ujung atas bambu yang akan berfungsi sebagai saluran pelimpah air diposisikan berjarak 0,5 meter.   Di antara kedua baris bambu diisi dengan tanah yang dipadatkan.  Kedua barisan bambu diperkuat dengan batang bambu yang diikat melintang dengan kawat galvanis berdiameter 5 mm.

Harapannya Gully Plug berbahan bambu ini akan hidup dan menjadi Gully Plug hidup berupa rumpun bambu, sehingga ranting bambu yang berada di bagian saluran pelimpah harus diarahkan ke samping atau dipotong agar dapat tetap berfungsi sebagai saluran pelimpah air.

Gambar 4.  Gully Plug Dengan 2 Baris Tampak Samping

 

Gambar 5. Gully Plug Berbahan 2 Baris Bambu Mulai Tumbuh

 


 Sebenarnya untuk mencegah tanah yang ada di antara kedua barisan bambu terkikis oleh air, bagian luar dari barisan bambu dapat dilapisi dengan ijuk yang ditata sedemikian rupa sebagai lapisan penahan sedimen sekaligus pelindung tanah di antara ke dua barisan bambu.

Demikian juga pada dasar alur yng menjadi tempat terjunnya air dapat diperkuat dengan lapisan ijuk yang telah diikat dengan kawat galvanis pada belahan bambu yang mengapit lapisan ijuk tersebut.  Dengan demikian tanah pada dasar alur yang menjadi tempat terjunan air terhindar dari erosi berlebihan akibat tekanan air yang jatuh dari saluran pelimpah air.

 

Model lain pembuatan Gully Plug berbahan baku bambu adalah dengan satu baris bambu yang ditancapkan berjajar dengan jarak 1 M x 1 M melintang alur air/jurang, sebagai patok, kemudian barisan/patok bambu diperkuat dengan batang bambu mendatar dan diikat melintang dengan kawat galvanis berdiameter 5 mm ( seperti  pada gambar dibawah ini )