Rabu, 17 Mei 2023
Senin, 08 Mei 2023
Mengenal Program Kampung Iklim beserta Tujuan dan Manfaatnya
Mengenal Program Kampung Iklim beserta Tujuan dan Manfaatnya
Dalam Road Map Program Kampung Iklim (ProKlim) dijelaskan bahwa Program Kampung Iklim (ProKlim) merupakan program berlingkup nasional yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam rangka meningkatkan keterlibatan masyarakat dan pemangku kepentingan lain untuk melakukan penguatan kapasitas adaptasi terhadap dampak perubahan iklim dan penurunan emisi gas rumah kaca. Serta memberikan pengakuan terhadap upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, yang telah dilakukan, yang dapat meningkatkan kesejahteraan di tingkat lokal sesuai dengan kondisi di masing-masing wilayah.Kampung Iklim adalah lokasi yang berada di wilayah administratif paling rendah setingkat rukun warga atau dusun dan paling tinggi setingkat kelurahan atau desa, atau wilayah yang masyarakatnya telah melakukan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim secara berkesinambungan
Upaya Adaptasi dalam Program Kampung Iklim
Upaya adaptasi adalah upaya masyarakat dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan
iklim. Upaya adaptasi terhadap dampak perubahan iklim ini dapat dilaksanakan melalui
kegiatan antara lain seperti:
- Pengendalian kekeringan, banjir dan longsor;
- Peningkatan ketahanan pangan
- Penanganan atau antisipasi kenaikan muka laut, rob, intrusi air laut, abrasi, ablasi atau erosi akibat angin, gelombang tinggi
- Pengendalian penyakit terkait iklim dan,
- Kegiatan-kegiatan lain yang terkait dengan upaya peningkatan penyesuaian diri terhadap perubahan iklim
Upaya Mitigasi dalam Program Kampung Iklim
Upaya mitigasi merupakan kegiatan pencegahan penyebab perubahan iklim sekaligus mengurangi peningkatan emisi gas rumah kaca ke atmosfer. Kegiatan mitigasi dapat dimulai dari hal-hal sederhana di lingkungan sekitar rumah sampai dengan yang dilaksanakan secara berkelompok yang melibatkan warga di lokasi kampung iklim.
Perilaku hemat energi, transportasi hijau, pengelolaan sampah, penanaman pohon serta pengendalian kebakaran lahan dan hutan yang melibatkan masyarakat adalah contoh kegiatan mitigasi yang perlu terus dikampanyekan kepada seluruh pihak
Tujuan Program Kampung Iklim
Dilansir dari laman bone.go.id, Program Kampung Iklim dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman mengenai perubahan iklim dan dampak yang ditimbulkannya sehingga seluruh pihak terdorong untuk melaksanakan aksi nyata yang dapat memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi perubahan iklim serta memberikan kontribusi terhadap upaya pengurangan emisi GRK. Hal lain yang diharapkan dapat tercapai melalui pelaksanaan ProKlim adalah:
Tujuan umum
- Menumbuhkan kemandirian masyarakat dalam melaksanakan adaptasi perubahan iklim, termasuk menjaga nilai-nilai kearifan tradisional atau lokal yang dapat mendukung upaya penanganan perubahan iklim dan pengendalian kerusakan lingkungan secara umum.
- Menjembatani kebutuhan masyarakat dan pihak-pihak yang dapat memberikan dukungan untuk pelaksanaan aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
- Meningkatkan kerjasama seluruh pihak di tingkat nasional dan daerah dalam memperkuat kapasitas masyarakat untuk melaksanakan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim
- Menumbuhkan gerakan nasional adaptasi dan mitigasi perubahan iklim melalui pelaksanaan kegiatan berbasis masyarakat yang bersifat aplikatif, adaptif dan berkelanjutan
- Mengoptimalkan potensi pengembangan kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang dapat memberikan manfaat terhadap aspek ekologi, ekonomi dan pengurangan bencana iklim.
- Mendukung program nasional yang dapat memperkuat upaya penanganan perubahan iklim secara global seperti gerakan ketahanan pangan, ketahanan energi, peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pencapaian target penurunan emisi sebesar 26% pada tahun 2030 dibandingkan dengan jika tidak dilakukan upaya apapun.
Sedangkan tujuan khusus dari Program Kampung Iklim adalah:
- Mengidentifikasi kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim serta potensi pengembangannya di tingkat lokal.
- Memberikan pengakuan terhadap aksi lokal yang telah dilakukan masyarakat untuk mendukung upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
- Mendorong penyebarluasan kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang telah berhasil dilaksanakan pada lokasi tertentu untuk dapat diterapkan di daerah lain sesuai dengan kondisi wilayah dan kebutuhan masyarakat setempat.
- Mengidentifikasi kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim serta potensi pengembangannya di tingkat lokal.
- Memberikan pengakuan terhadap aksi lokal yang telah dilakukan masyarakat untuk mendukung upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
- Mendorong penyebarluasan kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang telah berhasil dilaksanakan pada lokasi tertentu untuk dapat diterapkan di daerah lain sesuai dengan kondisi wilayah dan kebutuhan masyarakat setempat.
Manfaat Program Kampung Iklim
Manfaat Program Kampung Iklim meliputi:
- meningkatnya ketahanan masyarakat dalam menghadapi variabilitas iklim dan dampak perubahan iklim;
- terukurnya potensi dan kontribusi pengurangan emisi GRK suatu lokasi terhadap pencapaian target penurunan emisi GRK nasional
- tersedianya data kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim serta potensi pengembangannya di tingkat lokal yang dapat menjadi bahan masukan dalam perumusan kebijakan, strategi dan program terkait perubahan iklim;tersosialisasinya kesadaran dan gaya hidup rendah karbon
Manfaat Program Kampung Iklim meliputi:
- meningkatnya ketahanan masyarakat dalam menghadapi variabilitas iklim dan dampak perubahan iklim;
- terukurnya potensi dan kontribusi pengurangan emisi GRK suatu lokasi terhadap pencapaian target penurunan emisi GRK nasional
- tersedianya data kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim serta potensi pengembangannya di tingkat lokal yang dapat menjadi bahan masukan dalam perumusan kebijakan, strategi dan program terkait perubahan iklim;tersosialisasinya kesadaran dan gaya hidup rendah karbon
Senin, 10 April 2023
KONSERVASI TANAH DAN AIR DENGAN GULLY PLUG
KONSERVASI TANAH DAN AIR DENGAN GULLY PLUGIndonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan hasil bumi.
Salah satu kekayaan alam Indonesia adalah hutan yang membentang luas dengan
aneka hasil di dalamnya. Hewan, tumbuhan, dan semua yang ada di dalamnya bisa
dimanfaatkan oleh masyarakat.
Sebagai kekayaan yang dimanfaatkan sepenuhnya untuk
kepentingan rakyat, maka selayaknya untuk melindungi hutan dari berbagai
ancaman mulai dari pembakaran, penggundulan, dan longsor. Salah satu upaya
untuk melindungi dari ancaman longsor adalah dengan membuat Gully Plug.
Gully plug adalah bangunan konservasi berupa susunan batu
dalam kawat brojong yang terletak melintang alur anak sungai / parit untuk
menahan endapan lumpur sehingga tebing parit akan lebih rendah atau tidak
terlalu dalam segingga bahaya tanah longsor dapat dihindarkan.
Gully Plug bisa disebut sebagai pengendali jurang. Keberadaan
Gully Plug bisa membantu untuk mencegah hutan dari ancaman longsor dan
sebagainya. Jadi Gully Plug ini tidak hanya untuk sungai, tetapi juga bisa
digunkan untuk perlindungan hutan.
Dengan kata lain Tujuan dibangunnya gully plug yaitu untuk
memperbaiki lahan yang rusak berupa jurang akibat gerusan air guna mencegah
terjadinya jurang yang semain besar sehingga erosi dan proses sedimentasi
terkendali.
Rehabilitasi hutan dan lanan (RHL) adalah upaya untuk
memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan fungsi hutan dan tahan sehingga
daya dukung produktivitas dan peranannya dalam mendukung stem penyangga
kehidupan tetap terjaga RHL bisa dilakukan dengan 2 (dua) metode yaitu melalui
metode vegetatif dan sipil teknis
Prinsip metode vegetar adalah menambah jumlah tanaman
sehingga hutan bisa menjalankan fungsinya sebagai pengatur tata air. Beberapa
contoh metode vegetatif adalah rehabilitasi dan reklamasi hutan. bonai
pengayaan hutan rakyat, penanaman hutan kota, hutan mangrove dan lain lain
Mengarah ke pembangunan konstruksi
serta merupakan usaha konservasi tanah dan air Salah satu jenis metode ini
menurut Pasal 24 Ayat 4 UU No 37 Tahun 2014 tentang
Konservasi Tanah dan Air adalah bangunan pengendall
jurang (gully plug)
Gay plug atau pengendali jurang merupakan salah satu
bentuk bangunan konservasi tanah yang berfungsi sebagai pencegah atau
pengendali erosi agar tidak meluas Mantaat gully plug adalah a)mengurangi
terbentuknya jurang atau parit yang semakin besar akibat gerusan air b)
Memperbaiki lanan yang rusak akibat gerusan air sehingga terjadi jurang / pant:
c) Mengendalikan endapan sedimen sehingga endapan di wilayan hilir bisa lepih
terkontrol d) Memperbaiki tata air di wilayah sekitarnya
Bangunan yang tersusun dan batu dan kawat bronjong ini
dibangun dengan
Oleh karena itu maka pembangunan Gully Plug tentu sangatlah
penting untuk menjaga agar kondisi lahan tetap terjaga.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membangun
gully plug yaitu
a) Lahan dengan kemiringan 30%
b) Panjang parit/jurang sebesar 250 meter
c) Tipe Batu Bronjong Berikut adalah gambar rencana Gully Plug,
dengan ukuran Tinggi= 2 meter; Lebar= 5 meter.
d) Daerah dikategorikan sebagai lahan kritis
e) Daerah tangkapan air minimum 10 hektare
e) Lebar kedalaman parit/jurang sebesar 3x3 meter
f) Kemiringan parit/jurang sebesar 5%
Gully Plug sendiri terdiri dari berbagai macam. Tergantung
lokasi dan bahan yang digunakan. Berikut beberapa tipe Gully Plug yang sering
digunakan di Indonesia.
Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan hasil bumi.
Salah satu kekayaan alam Indonesia adalah hutan yang membentang luas dengan
aneka hasil di dalamnya. Hewan, tumbuhan, dan semua yang ada di dalamnya bisa
dimanfaatkan oleh masyarakat.
Sebagai kekayaan yang dimanfaatkan sepenuhnya untuk
kepentingan rakyat, maka selayaknya untuk melindungi hutan dari berbagai
ancaman mulai dari pembakaran, penggundulan, dan longsor. Salah satu upaya
untuk melindungi dari ancaman longsor adalah dengan membuat Gully Plug.
Gully plug adalah bangunan konservasi berupa susunan batu
dalam kawat brojong yang terletak melintang alur anak sungai / parit untuk
menahan endapan lumpur sehingga tebing parit akan lebih rendah atau tidak
terlalu dalam segingga bahaya tanah longsor dapat dihindarkan.
Gully Plug bisa disebut sebagai pengendali jurang. Keberadaan
Gully Plug bisa membantu untuk mencegah hutan dari ancaman longsor dan
sebagainya. Jadi Gully Plug ini tidak hanya untuk sungai, tetapi juga bisa
digunkan untuk perlindungan hutan.
Dengan kata lain Tujuan dibangunnya gully plug yaitu untuk
memperbaiki lahan yang rusak berupa jurang akibat gerusan air guna mencegah
terjadinya jurang yang semain besar sehingga erosi dan proses sedimentasi
terkendali.
Rehabilitasi hutan dan lanan (RHL) adalah upaya untuk
memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan fungsi hutan dan tahan sehingga
daya dukung produktivitas dan peranannya dalam mendukung stem penyangga
kehidupan tetap terjaga RHL bisa dilakukan dengan 2 (dua) metode yaitu melalui
metode vegetatif dan sipil teknis
Oleh karena itu maka pembangunan Gully Plug tentu sangatlah
penting untuk menjaga agar kondisi lahan tetap terjaga.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membangun
gully plug yaitu
a) Lahan dengan kemiringan 30%
b) Panjang parit/jurang sebesar 250 meter
c) Tipe Batu Bronjong Berikut adalah gambar rencana Gully Plug,
dengan ukuran Tinggi= 2 meter; Lebar= 5 meter.
d) Daerah dikategorikan sebagai lahan kritis
e) Daerah tangkapan air minimum 10 hektare
e) Lebar kedalaman parit/jurang sebesar 3x3 meter
f) Kemiringan parit/jurang sebesar 5%
Gully Plug sendiri terdiri dari berbagai macam. Tergantung
lokasi dan bahan yang digunakan. Berikut beberapa tipe Gully Plug yang sering
digunakan di Indonesia.
b)Tipe batu bronjong dengan sayap
b)Tipe batu bronjong dengan sayap
c) Pasangan batu spesi
d) Tipe Bambu (bio gully plug)
Tipe Gully Plug di atas tentunya juga
berdasarkan kondisi tanah, tidak semua kondisi bisa menggunakan gully plug.
Pembangunan gully plug harus memenuhi persyaratan teknis seperti yang tercantum
pada Peraturan Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan
Lindung Nomor P.6/PDASHL/SET/KUM.1/8/2017 tentang Petunjuk Teknis Bangunan
Konservasi Tanah dan Air.
Persyaratan teknis lokasi
gully plug antara lain:
1. Kemiringan DTA > 35 %
dan terjadi erosi parit/alur;
2. Pengelolaan lahan sangat
intensif atau lahan terbuka;
3. Luas DTA 1 - 5 ha;
4. Kemiringan alur ≤10%;
5. Tingkat erosi dan
sedimentasi yang tinggi dan mampu menampung aliran permukaan yang besar;
dan/atau
6. Merupakan lokasi
penanganan dampak bencana alam
Gully Plug merupakan salah
satu cara untuk melindungi hutan. Namun secara keseluruhan, Gully Plug memiliki
banyak manfaat. Berikut diatara manfaat dari Gully Plug.
a) Memperbaiki lahan
yang rusak akibat gerusan air sehingga terjadi jurang/parit
b) Mencegah bertambah
luasnya kerusakan lahan akibat terjadinya jurang/parit yang semakin lebar
c) Mengendalikan
erosi dan lumpur, endapan, serta air dari daerah atas sehingga dapat
mengendalikan hilir dari sedimentasi dan banjir
d) Memperbaiki
kondisi tata air di sekitarnya
Gully Plug sendiri sudah di
atur oleh pemerintah baik kriteria tanah, tipe, pemanfaatannya. Beberapa
Peraturan mulai dari Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan sampai
peraturan Gubernur ada yang membahas.
Berikut salah satu Peraturan yang membahas tentang Gully Plug
Persyaratan teknis lokasi gully plug antara lain:
1. Kemiringan DTA > 35 %
dan terjadi erosi parit/alur;
2. Pengelolaan lahan sangat
intensif atau lahan terbuka;
3. Luas DTA 1 - 5 ha;
4. Kemiringan alur ≤10%;
5. Tingkat erosi dan
sedimentasi yang tinggi dan mampu menampung aliran permukaan yang besar;
dan/atau
Gully Plug merupakan salah satu cara untuk melindungi hutan. Namun secara keseluruhan, Gully Plug memiliki banyak manfaat. Berikut diatara manfaat dari Gully Plug.
a) Memperbaiki lahan
yang rusak akibat gerusan air sehingga terjadi jurang/parit
b) Mencegah bertambah
luasnya kerusakan lahan akibat terjadinya jurang/parit yang semakin lebar
c) Mengendalikan
erosi dan lumpur, endapan, serta air dari daerah atas sehingga dapat
mengendalikan hilir dari sedimentasi dan banjir
d) Memperbaiki
kondisi tata air di sekitarnya
Gully Plug sendiri sudah di atur oleh pemerintah baik kriteria tanah, tipe, pemanfaatannya. Beberapa Peraturan mulai dari Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan sampai peraturan Gubernur ada yang membahas.
Jumat, 10 Maret 2023
WASPADA DAMPAK LA NINA
WASPADA GEJALA LA NINA DI WILAYAH PACITAN MENYEBABKAN
BEBERAPA KEJADIAN BANJIR DAN TANAH LONGSOR DI SEJUMLAH WILAYAH
Curah hujan yang tinggi beberapa pekan terakhir karena adanya
fenomena La Nina. La Nina sendiri adalah fenomena mendinginnya suhu permukaan
laut (SML) di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur di bawah kondisi
normalnya. Sebuah anomali sistem global yang terjadi dengan periode dua sampai
tujuh tahun karena perubahan suhu air laut di samudera Pasifik, kondisi
demikian sehingga meningkatkan volume hujan.
Hal ini terjadi di kabupaten Pacitan pada bulan Februari 2023.
Kondisi ini sekaligus membuat BPBD harus meningkatkan konsentrasi terhadap
potensi bencana di musim penghujan, seperti banjir, longsor, angin maupun
ancaman pohon tumbang yang bersifat sporadis yang kerap terjadi. "Bicara
musim hujan berarti rata di 12 Kecamatan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(BPBD) Kabupaten Pacitan meminta masyarakat untuk tetap mewaspadai puncak musim
hujan yang diprediksi akan terjadi pada bulan Desember 2022 hingga Februari 2023. Sebagai informasi, sebelumnya Badan Meteorologi Klimatologi, dan
Geofisika (BMKG) memprakirakan puncak musim hujan di sebagian wilayah Indonesia
terjadi di bulan Desember 2022 hingga Februari 2023.
Tidak hanya BPBD kab. Pacitan, Cabang Dinas Kehutanan Wilayah
Pacitan Juga memantau terjadinya bencana di sejumlah wilayah dengan intentitas
sedang sampai tinggi. Terutama daerah yang kelerengannya lebih dari 50% apakah
terjadi tanah longsor, seperti Kecamatan Tegalombo, Kecamatan Arjosari,
Kecamatan Bandar, Kecamatan Bandar, Kec Nawangan dan Kec Tulakan. Sedangkan daerah muara yang berpotensi
banjir yaitu wilayah kecamatan Pacitan, kecamatan Ngadirojo dan Kecamatan
Sudimoro.
Bapak Kepala Cabang dinas Kehutanan Wilayah Pacitan Menghimbau
agar Petugas di Lapangan agar berkoordinasi dengan wilayah binaan terkait
dengan kondisi cuaca yang ektrim yang dapat mengakibatkan banjir dan tanah
longsor. Serta melaporkan kejadian secara tertulis mengenai banjir dan tanah
longsor di 12 kecamatan. Dalam hal pelaporan petugas lapangan harus menyertai
foto berkoordinat, tempat kejadian, waktu kejadian, korban jiwa dan materi yang
disebabkan dampaknya serta analisa tegakkan yang ada didaerah bencana yang
dilaporkan. Rata-rata kejadian longsor di wilayah pacitan bukan karena tutupan
lahan yang terbuka, tetapi memang curah hujan sangat tinggi sehingga tanah
tidak mampu menampung debit air sehingga terjadi longsor parsial.
Bencana alam seperti tanah longsor memang salah satu kehendak
Tuhan yang tidak dapat diprediksi. Namun, kita dapat mengurangi risikonya
dengan melakukan beberapa pencegahan tanah longsor seperti berikut ini:
- Hindari membangun rumah di atas dan bawah lereng terjal.
Longsor adalah bencana yang sering terjadi tiba-tiba tanpa disadari, jadi
usahakan tidak mendirikan bangunan apapun di bawah lereng yang tanahnya
terlihat rapuh.
- Tidak membuat kolam aliran air untuk sawah di bagian atas lereng. Genangan air dapat melembutkan tanah sehingga risiko tanah longsor semakin tinggi
- Jangan menebang pohon di daerah lereng. Sebaiknya ditanami dengan jenis tanaman keras yang akarnya kuat dan mampu mengikat tanah.
- Usahakan tidak memotong tebing jalan menjadi tegak. Ketika tanah di bawahnya mulai terkikis maka dapat terjadi longsor runtuhan batu yang berbahaya.
- Jangan mendirikan rumah di pinggir sungai karena tanah rawan terjadi erosi dan mengakibatkan longsor
- Buat saluran pembuangan air (SPA) yang dapat menjadi tempat penampungan air tanah ketika terjadi hujan lebat.
Demikian
pembahasan mengenai jenis-jenis, penyebab, dan cara pencegahan tanah longsor.
Melalui artikel ini semoga kita semua semakin waspada dan dapat terhindari dari
bencana.
Jenis-jenis
tipe longsor
Untuk diketahui, La Nina akan menyebabkan meningkatnya curah
hujan sebanyak 10 persen lebih tinggi dari biasanya pada musim penghujan. Namun
demikian, La Nina ini dapat menyebabkan banjir dan tanah longsor di sejumlah
wilayah yang menjadi langganan bencana alam.
Fenomena La Nina ini ditandai dengan tekanan udara yang lebih
rendah dari biasanya di Pasifik Barat. Wilayah yang termasuk dalam zona
bertekanan rendah ini akan mengalami peningkatan curah hujan. Ini yang terjadi
di kota karena adanya La Nina ini adalah badai yang yang mengarah ke selatan
Hingga awal Februari 2023 ini, masih mengalami kondisi La
Nina yang sudah terjadi sejak tahun 2020. Dalam periode Februari-Maret 2023
ini, La Nina diprediksi akan segera berakhir. Selanjutnya, pada semester kedua
tahun 2023 nanti, kondisi netral dan El Nino memiliki peluang yang relatif sama
untuk terjadi. Arahan dari BMKG agar masyarakat tetap waspada karena hingga
pertengahan 2023 El Nino masih akan dipastikan akan hadir dalam kurun waktu
tersebut (tahun ini).
Selain longsor pada cuaca ektrem kemarin terjadi banjir di
beberapa tempat di kota Pacitan, hal tersebut ditengarai curah
hujan yang sangat tinggi dan sistem drainase vang tidak normal. Banvak selokan
dan lubang resapan tersumbat sampah Kesiapsiagaan tidak hanya pada pemerintah atau aparatur
kecamatan dan desa, namun juga masyarakat. Peringatan dini mitigasi dan edukasi
kepada semua pihak termasuk masyarakat harus terus disosialisasikan dan menjadi
bagian dari tanggap bencana.
Selasa, 20 Desember 2022
Jumat, 09 Desember 2022
KONSERVASI TANAH DAN AIR
Kecamatan Tulakan topografi
wilayah yang sebagian besar berupa perbukitan ±85%. Pada daerah ini, di musim
penghujan airnya melimpah hingga meluap, namun ketika kemarau air menyusut
hingga nyaris kekeringan. Terdapat aliran sungai yang melalui hampir
seluruh wilayah kecamatan Tulakan, membelah maupun melintang di antara
desa-desa, sehingga otomatis bersinggungan dan menjadi bagian dari kehidupan
masyarakat.
Melihat kondisi alam yang demikian serta keadaan cuaca yang relatif sulit
diprediksi, beragam resiko yang tak terhindarkan bisa mungkin dapat terjadi
salah satunya yaitu erosi. Jika sudah terjadi tentunya hal ini mengganggu
kelangsungan aktivitas masyarakat warga desa. Karena peristiwa erosi
menyebabkan meluapnya sungai, jebolnya tanggul dan amblesnya jembatan.
Yang baru-baru ini terjadi di Tulakan yaitu di Desa Wonoanti terjadi bencana erosi yang berakibat tanah longsor menggerus pemukiman di desa Bungur, Losari dan Ngumbul.
KONSERVASI TANAH DAN AIR
Tanah dan air sebagai sumberdaya alam terbarukan harus dikelola dan dimanfaatkan secara bijaksana agar diperoleh manfaat yang berkelajutan dan produktifitasnya tetap lestari. Setiap macam penggunaan tanah serta aliran permukaan. Teknologi yang digunakan dalam pengelolaan lahan akan diperoleh pemanfaatan dan produktifitas yang berkelanjutan atau sebaliknya
Upaya penyelamatan bumi dalam bentuk Konservasi Tanah dan Air, sangat mendesak untuk mengembalikan ekosistem tanah dan air demi keselamatan kehidupan yang menyertainya. Konservasi Tanah dan Air adalah dua hal yang saling berkaitan. Tindakan konservasi atau perlindungan alam terhadap tanah, berdampak pada ketersediaan kuantitas dan kualitas air yang berkelanjutan. Usaha konservasi atau perlindungan alam terhadap air, akan melibatkan suatu tindakan untuk pengelolaan daerah tangkapan air secara terpadu, yang berarti juga tindakan konservasi tanah (Susilawati, 2006). Berhubungan adanya hubungan yang erat sekali antara tanah dan air, bahwa setiap perlakuan yang diberikan kepada permukaan sebidang tanah akan mempengaruhi pula tata air ditempat itu dan hilimya, maka masalah konservasi tanah dan air merupakan dua hal yang berhubungan erat sekali (Triwanto, 2012).
Penyelenggaraan Konservasi Tanah dan Air bertujuan:
1. Melindungi permukaan tanah dari pukulan air hujan yang jatuh, meningkatan kapasitas infiltrasi tanah, dan mencegah terjadinya konservasi aliran permukaan:
2. Fungsi tanah pada lahan agar mendukung kehidupan masyarakat;
3. Mengoptimalkan fungsi tanah pada lahan untuk mewujudkan manfaat ekonomi, lingkungan hidup secara seimbang dan lestari;
4. Meningkatkan daya dukung Daerah Aliran Sungai;
5. Meningkatkan kemampuan kapasitas untuk mengembangkan dan memberdayakan keikutsertaan masyarakat secara partisipatif; dan menjamin kemanfaatan
Konservasi Tanah dan Air secara adil dan merata untuk kepentingan masyarakat (UU No. 37 Tahun 2014).Lahan menurut Siswomartono (1989) adalah lingkungan alami dan kultural tempat berlansungnya produksi; suatu istilah yang lebih luas dari pada tanah. selain tanah, sifat-sifat meliputi kondisi fisik lainnya, seperti : Deposit mineral, iklim, dan pasok air, lokasi yang bertalian dengan pusat-pusat kegiatan, populasi dan lahan lain; ukuran masing-masing daerah; dan penutup tanaman yang ada, pekerjaan perbaikan, dan sebagainya.
Konservasi Tanah
Konservasi tanah dapat dikategorikan sebagai perpaduan ilmu pengetahuan yang mengembangkan teknologi pengawetan sumber daya alam khususnya sumber daya tanah dan air sebagai faktor penentu kualitas lingkungan hidup. Konservasi tanah dan air itu sendiri adalah usaha-usaha untuk menjaga dan menigkatkan produktivitas tanah, kualitas, kuantitas air. Problem yang mendasari saat ini adalah pertambahan penduduk yang selalu meningkat dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di era industrialisasi yang membutuhkan sejumlah tanah satu lahan yang cukup luas untuk aktivitas kehidupan dan pembangunan dalam mensej ahterakan umat manusia. Junaidi (2009) mengemukakan tujuan umum konservasi tanah saat ini ada 3, yaitu:
1. Untuk melindungi
fungsi tanah
dari kerusakan yang diakibatkan oleh mi dan campur tangan manusia,
2.Untuk memperbaiki fungsi tanah h mengalami kerusakan yang diakibatkan oleh faktor alami dan campur tangan manusia dan
3. Untuk memelihara
sekaligus meningkatkan kemampuan tanah agar dapat digunakan secara lestari.
Berdasarkan ketiga tujuan tersebut, konsep konservasi tanah telah berkernbang yang sernula hanya bertujuan pencegahan rnenjadi perbaikan bahkan peningkatan kernarnpuan tanah dalarn fungsinya.
Konservasi Air
Konservasi air pada prinsipnya adalah penggunaan air yang jatuh ke tanah seefisien rnungkin dan pengaturan waktu aliran yang tepat, sehingga tidak terjadi banjir yang rnerusak pada rnusirn hujan dan terdapat cukup air pada rnusirn kernarau. Konservasi air dapat dilakukan dengan (a) rneningkatkan pernanfaatan dua kornponen hidrologi, yaitu air permukaan, dan air tanah dan (b) rneningkatkan efisiensi pernakaian air irigasi (Arsyad, 2010).
Winarto, (2006) rnengatakan bahwa konservasi surnberdaya au adalah upaya rnernelihara keberadaan serta berkelanjutan, keadaan sifat dan fungsi surnberdaya air, agar senantiasa tersedia dalarn kuantitas dan kualitas yang rnernadai untuk rnernenuhi kebutuhan rnakhluk, baik dalarn waktu sekarang rnaupun yang akan datang. Oleh sebab itu, tindakan-tindakan yang berhubungan dengan pengendalian dan pengelolaan aliran permukaan dapat diformulasikan dalarn strategi konservasi air. Aspek penting yang perlu diperhatikan adalah sebanyak-banyaknya di daerah-daerah cekungan atau lernbah, sehingga dapat digunakan sebagai surnber air untuk pengairan dirnusirn kernarau rnaupun pada periode pendek saat dibutuhka oleh tanarnan pada rnusirn hujan. Konservasi air juga dapat rneningkatkan penutupan permukaan tanah dengan rnulsa dan teknologi ini sudah sangat popular dikalangan petani (Kumia, dkk. 2003). Asdak (2010) setiap perlakuan yang diberikan pada sebidang tanah akan rnernpengaruhi tata air ternpat itu dan tempat-tempat hilirnya. Oleh karena itu, rnaka konservasi tanah dan air rnerupakan dua hal yang berhubungan erat sekali, berbagai tindakan konservasi tanah rnerupakan juga tindakan konservasi air. Secara garis besar, metode konservasi tanah dan air dibagi menjadi rnetode vegetatif, rnekanik dan kirnia. Konservasi tanah dalarn arti luas nernpatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan tanah tersebut dan rnernperlakukannya dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Sifat fisik, kimia dan biologi menentukan kemampuan tanah (soil copability) untuk suatu penggunaan dan perlakuan yang diperlukan agar tanah tidak rusak dan dapat digunakan secara berkelanjutan (sustainable).
Sifat-sifat tanah tersebut juga menentukan tanah untuk tererosi. Konservasi tanah pada prinsipnya adalah penggunaan air hujan jatuh ke tanah unuk pertanian seeffisien mungkin, dan mengatur aliran air agar tidak terjadi banjir yang merusak dan terdapat cukup air pada waktu musim kemarau.
Teknik Konservasi Tanah dan Air
Teknik konservasi tanah di Indonesia diarahkan pada tiga prinsip utama yaitu perlindungan permukaan tanah terhadap pukulan butir-butir hujan, meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah seperti pemberian bahan organik atau dengan cara meningkatkan penyimpanan air, dan mengurangi laju aliran permukaan sehingga menghambat material tanah dan hara terhanyut (Agus, dkk, 1999). Ketiga teknik konservasi tanah secara vegetatif, mekanis dan kimia pada prinsipnya memiliki tujuan yang sama yaitu mengendalikan laju erosi, namun efektifitas, persyaratan dan kelayakan untuk diterapkan sangat berbeda. Oleh karena itu pemilihan teknik konservasi yang tepat sangat diperlukan (Kasdi, dkk, 2003).
Metode konservasi tanah dapat dibagi dalam tiga golongan utama, yaitu
2. Metode mekanik dan
3. Metode kimia.
A. Metode vegetatif (Penanaman dengan tanaman penutup tanah)
- Turnbuhan penutup tanah tinggi atau tanarnan pelindung, seperti Albizzia
- Tumbuhan penutup tanah sedang, berupa sernak seperti beberapa turnbuhan leguminosa (kacang-kacang
- Turnbuhan penutup tanah rendah, seperti Ageratum conizoides L (babadotan), dan beberapa jenis rumput-rumputan, misalnya akar wangi, rurnput gajah, dan rurnput benggala.
B. Metode mekanik
Metode fisik atau rnekanis adalah tindakan atau perilaku yang ditunjukan kepada tanah agar dapat rnernperkecil aliran air permukaan, sehingga dapat rnengalir dengan kekuatan tidak rnerusak. Pada pengolahan tanah, pernbajakan dilakukan rnenurut kontur atau rnernotong lereng, sehingga terbentuk jalur turnpukan tanah dan alur diantara turnpukan tanah yang terbentang rnenurut kontur. Pengolahan rnenurut kontur akan lebih efektif jika diikuti dengan penanarnan rnenurut kontur, yaitu barisan tanarnan diatur sejalan dengan garis kontur (Arsyad, 2010).
Keuntungan utama dari pengelolaan tanah rnenurut kontur adalah terbentuknya pengharnbatan
aliran permukaan dan terjadinya
penarnpungan air sernentara, sehingga dapat rnengurangi kernungkinan
terjadinya erosi. Untuk daerah dengan curah hujan yang rendah, sistern ini sekaligus sangat efektif bagi konsentrasi air (Suripin, 2004).
C. METODE KIMIA
Metode kimia merupakan salah satu sifat tanah yang sangat menguntungkan kepekaan tanah terhadap erosi. Oleh
karena itu sejak tahun 1950-an telah dimulai adanya usaha-usaha untuk memperbaiki kemantapan struktur tanah melalui pemberian preparat-preparat
kimia
yang secara umum
disebut pemantap
tanah (Soil conditioner). Suripin (2004) mengemukakan bahwa usaha pemantapan tanah yang bertujuan
untuk
sifat
fisik tanah
dengan
menggunakan
preparat-preparat kimia baik secara buatan maupun alami.
Bahan pemantapan tanah yang baik
harus mempunyai
sifat-sifat sebagai berikut dalam (Suripin, 2004):
- Mempunyai sifat yang adhesif serta dapat bercampur dengan tanah secara merata
- Dapat merubah sifat hidrophobik tanah, yang dengan demikian dapat merubah kurva penahanan air tanah
- Dapat meningkatkan kapasitas tukar kation tanah, yang berarti mempengaruhi kemampuan tanah dalam menahan air
- Daya tahan sebagai pemantap tanah cukup memadai, tidak terlalu singkat dan tidak terlalu lama
- Tidak bersifat racun (phytotoxic) dan harganya terjangkau.










