Senin, 08 Mei 2023

Mengenal Program Kampung Iklim beserta Tujuan dan Manfaatnya

Mengenal Program Kampung Iklim beserta Tujuan dan Manfaatnya


Dalam Road Map Program Kampung Iklim (ProKlim) dijelaskan bahwa Program Kampung Iklim (ProKlim) merupakan program berlingkup nasional yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam rangka meningkatkan keterlibatan masyarakat dan pemangku kepentingan lain untuk melakukan penguatan kapasitas adaptasi terhadap dampak perubahan iklim dan penurunan emisi gas rumah kaca. Serta memberikan pengakuan terhadap upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, yang telah dilakukan, yang dapat meningkatkan kesejahteraan di tingkat lokal sesuai dengan kondisi di masing-masing wilayah.
Kampung Iklim adalah lokasi yang berada di wilayah administratif paling rendah setingkat rukun warga atau dusun dan paling tinggi setingkat kelurahan atau desa, atau wilayah yang masyarakatnya telah melakukan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim secara berkesinambungan

Upaya Adaptasi dalam Program Kampung Iklim


Upaya adaptasi adalah upaya masyarakat dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan

iklim. Upaya adaptasi terhadap dampak perubahan iklim ini dapat dilaksanakan melalui

kegiatan antara lain seperti: 

  • Pengendalian kekeringan, banjir dan longsor;
  • Peningkatan ketahanan pangan

  •  Penanganan atau antisipasi kenaikan muka laut, rob, intrusi air laut, abrasi, ablasi atau erosi akibat angin, gelombang tinggi
  • Pengendalian penyakit terkait iklim dan,
  • Kegiatan-kegiatan lain yang terkait dengan upaya peningkatan penyesuaian diri terhadap perubahan iklim

Upaya Mitigasi dalam Program Kampung Iklim



Upaya mitigasi merupakan kegiatan pencegahan penyebab perubahan iklim sekaligus mengurangi peningkatan emisi gas rumah kaca ke atmosfer. Kegiatan mitigasi dapat dimulai dari hal-hal sederhana di lingkungan sekitar rumah sampai dengan yang dilaksanakan secara berkelompok yang melibatkan warga di lokasi kampung iklim. 

Perilaku hemat energi, transportasi hijau, pengelolaan sampah, penanaman pohon serta pengendalian kebakaran lahan dan hutan yang melibatkan masyarakat adalah contoh kegiatan mitigasi yang perlu terus dikampanyekan kepada seluruh pihak

Tujuan Program Kampung Iklim

Dilansir dari laman bone.go.id, Program Kampung Iklim dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman mengenai perubahan iklim dan dampak yang ditimbulkannya sehingga seluruh pihak terdorong untuk melaksanakan aksi nyata yang dapat memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi perubahan iklim serta memberikan kontribusi terhadap upaya pengurangan emisi GRK. Hal lain yang diharapkan dapat tercapai melalui pelaksanaan ProKlim adalah:

Tujuan umum

    • Menumbuhkan kemandirian masyarakat dalam melaksanakan adaptasi perubahan iklim, termasuk menjaga nilai-nilai kearifan tradisional atau lokal yang dapat mendukung upaya penanganan perubahan iklim dan pengendalian kerusakan lingkungan secara umum.
    • Menjembatani kebutuhan masyarakat dan pihak-pihak yang dapat memberikan dukungan untuk pelaksanaan aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
    • Meningkatkan kerjasama seluruh pihak di tingkat nasional dan daerah dalam memperkuat kapasitas masyarakat untuk melaksanakan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim
    • Menumbuhkan gerakan nasional adaptasi dan mitigasi perubahan iklim melalui pelaksanaan kegiatan berbasis masyarakat yang bersifat aplikatif, adaptif dan berkelanjutan
    • Mengoptimalkan potensi pengembangan kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang dapat memberikan manfaat terhadap aspek ekologi, ekonomi dan pengurangan bencana iklim.
    • Mendukung program nasional yang dapat memperkuat upaya penanganan perubahan iklim secara global seperti gerakan ketahanan pangan, ketahanan energi, peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pencapaian target penurunan emisi sebesar 26% pada tahun 2030 dibandingkan dengan jika tidak dilakukan upaya apapun.    

Sedangkan tujuan khusus dari Program Kampung Iklim adalah:

    • Mengidentifikasi kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim serta potensi pengembangannya di tingkat lokal.
    • Memberikan pengakuan terhadap aksi lokal yang telah dilakukan masyarakat untuk mendukung upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
    • Mendorong penyebarluasan kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang telah berhasil dilaksanakan pada lokasi tertentu untuk dapat diterapkan di daerah lain sesuai dengan kondisi wilayah dan kebutuhan masyarakat setempat.

Manfaat Program Kampung Iklim

    • Manfaat Program Kampung Iklim meliputi:


      • meningkatnya ketahanan masyarakat dalam menghadapi variabilitas iklim dan dampak perubahan iklim;
      • terukurnya potensi dan kontribusi pengurangan emisi GRK suatu lokasi terhadap pencapaian target penurunan emisi GRK nasional
      • tersedianya data kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim serta potensi pengembangannya di tingkat lokal yang dapat menjadi bahan masukan dalam perumusan kebijakan, strategi dan program terkait perubahan iklim;tersosialisasinya kesadaran dan gaya hidup rendah karbon














    Senin, 10 April 2023

    KONSERVASI TANAH DAN AIR DENGAN GULLY PLUG

    KONSERVASI TANAH DAN AIR DENGAN GULLY PLUG

    Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan hasil bumi. Salah satu kekayaan alam Indonesia adalah hutan yang membentang luas dengan aneka hasil di dalamnya. Hewan, tumbuhan, dan semua yang ada di dalamnya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

    Sebagai kekayaan yang dimanfaatkan sepenuhnya untuk kepentingan rakyat, maka selayaknya untuk melindungi hutan dari berbagai ancaman mulai dari pembakaran, penggundulan, dan longsor. Salah satu upaya untuk melindungi dari ancaman longsor adalah dengan membuat Gully Plug.

    Gully plug adalah bangunan konservasi berupa susunan batu dalam kawat brojong yang terletak melintang alur anak sungai / parit untuk menahan endapan lumpur sehingga tebing parit akan lebih rendah atau tidak terlalu dalam segingga bahaya tanah longsor dapat dihindarkan.

    Gully Plug bisa disebut sebagai pengendali jurang. Keberadaan Gully Plug bisa membantu untuk mencegah hutan dari ancaman longsor dan sebagainya. Jadi Gully Plug ini tidak hanya untuk sungai, tetapi juga bisa digunkan untuk perlindungan hutan.

    Dengan kata lain Tujuan dibangunnya gully plug yaitu untuk memperbaiki lahan yang rusak berupa jurang akibat gerusan air guna mencegah terjadinya jurang yang semain besar sehingga erosi dan proses sedimentasi terkendali.

    Rehabilitasi hutan dan lanan (RHL) adalah upaya untuk memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan fungsi hutan dan tahan sehingga daya dukung produktivitas dan peranannya dalam mendukung stem penyangga kehidupan tetap terjaga RHL bisa dilakukan dengan 2 (dua) metode yaitu melalui metode vegetatif dan sipil teknis

    Prinsip metode vegetar adalah menambah jumlah tanaman sehingga hutan bisa menjalankan fungsinya sebagai pengatur tata air. Beberapa contoh metode vegetatif adalah rehabilitasi dan reklamasi hutan. bonai pengayaan hutan rakyat, penanaman hutan kota, hutan mangrove dan lain lain
    Mengarah ke pembangunan konstruksi serta merupakan usaha konservasi tanah dan air Salah satu jenis metode ini menurut Pasal 24 Ayat 4 UU No 37 Tahun 2014 tentang
    Konservasi Tanah dan Air adalah bangunan pengendall jurang (gully plug)
    Gay plug atau pengendali jurang merupakan salah satu bentuk bangunan konservasi tanah yang berfungsi sebagai pencegah atau pengendali erosi agar tidak meluas Mantaat gully plug adalah a)mengurangi terbentuknya jurang atau parit yang semakin besar akibat gerusan air b) Memperbaiki lanan yang rusak akibat gerusan air sehingga terjadi jurang / pant: c) Mengendalikan endapan sedimen sehingga endapan di wilayan hilir bisa lepih terkontrol d) Memperbaiki tata air di wilayah sekitarnya
    Bangunan yang tersusun dan batu dan kawat bronjong ini dibangun dengan

    Oleh karena itu maka pembangunan Gully Plug tentu sangatlah penting untuk menjaga agar kondisi lahan tetap terjaga.

    Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membangun gully plug yaitu

            a) Lahan dengan kemiringan 30%
            b) Panjang parit/jurang sebesar 250 meter
           c) Tipe Batu Bronjong Berikut adalah gambar rencana Gully Plug, dengan                        ukuran Tinggi= 2 meter; Lebar= 5 meter.

            d) Daerah dikategorikan sebagai lahan kritis

            e) Daerah tangkapan air minimum 10 hektare

            e) Lebar kedalaman parit/jurang sebesar 3x3 meter

            f) Kemiringan parit/jurang sebesar 5%

    Gully Plug sendiri terdiri dari berbagai macam. Tergantung lokasi dan bahan yang digunakan. Berikut beberapa tipe Gully Plug yang sering digunakan di Indonesia. 

     a) Tipe batu bronjong

                        b)Tipe batu bronjong dengan sayap

           

                 c) Pasangan batu spesi   


      d) Tipe Bambu (bio gully plug)

         

             
    Tipe Gully Plug di atas tentunya juga berdasarkan kondisi tanah, tidak semua kondisi bisa menggunakan gully plug. Pembangunan gully plug harus memenuhi persyaratan teknis seperti yang tercantum pada Peraturan Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Nomor P.6/PDASHL/SET/KUM.1/8/2017 tentang Petunjuk Teknis Bangunan Konservasi Tanah dan Air.

     Persyaratan teknis lokasi gully plug antara lain:

            1. Kemiringan DTA > 35 % dan terjadi erosi parit/alur;

            2. Pengelolaan lahan sangat intensif atau lahan terbuka;

            3. Luas DTA 1 - 5 ha; 

            4. Kemiringan alur ≤10%;

            5. Tingkat erosi dan sedimentasi yang tinggi dan mampu menampung aliran             permukaan yang besar; dan/atau

            6. Merupakan lokasi penanganan dampak bencana alam

    Gully Plug merupakan salah satu cara untuk melindungi hutan. Namun secara keseluruhan, Gully Plug memiliki banyak manfaat. Berikut diatara manfaat dari Gully Plug.

            a) Memperbaiki lahan yang rusak akibat gerusan air sehingga terjadi                         jurang/parit

            b) Mencegah bertambah luasnya kerusakan lahan akibat terjadinya                         jurang/parit yang semakin lebar

            c) Mengendalikan erosi dan lumpur, endapan, serta air dari daerah atas                     sehingga dapat mengendalikan hilir dari sedimentasi dan banjir

            d) Memperbaiki kondisi tata air di sekitarnya

    Gully Plug sendiri sudah di atur oleh pemerintah baik kriteria tanah, tipe, pemanfaatannya. Beberapa Peraturan mulai dari Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan sampai peraturan Gubernur ada yang membahas.


    Berikut salah satu Peraturan yang membahas tentang Gully Plug





    AD/ART KTH


     








    Jumat, 10 Maret 2023

    WASPADA DAMPAK LA NINA

     

    WASPADA GEJALA LA NINA DI WILAYAH PACITAN MENYEBABKAN BEBERAPA KEJADIAN BANJIR DAN TANAH LONGSOR DI SEJUMLAH WILAYAH

    Curah hujan yang tinggi beberapa pekan terakhir karena adanya fenomena La Nina. La Nina sendiri adalah fenomena mendinginnya suhu permukaan laut (SML) di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur di bawah kondisi normalnya. Sebuah anomali sistem global yang terjadi dengan periode dua sampai tujuh tahun karena perubahan suhu air laut di samudera Pasifik, kondisi demikian sehingga meningkatkan volume hujan.

    Hal ini terjadi di kabupaten Pacitan pada bulan Februari 2023. Kondisi ini sekaligus membuat BPBD harus meningkatkan konsentrasi terhadap potensi bencana di musim penghujan, seperti banjir, longsor, angin maupun ancaman pohon tumbang yang bersifat sporadis yang kerap terjadi. "Bicara musim hujan berarti rata di 12 Kecamatan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan meminta masyarakat untuk tetap mewaspadai puncak musim hujan yang diprediksi akan terjadi pada bulan Desember 2022 hingga Februari 2023. Sebagai informasi, sebelumnya Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan puncak musim hujan di sebagian wilayah Indonesia terjadi di bulan Desember 2022 hingga Februari 2023.

    Tidak hanya BPBD kab. Pacitan, Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Pacitan Juga memantau terjadinya bencana di sejumlah wilayah dengan intentitas sedang sampai tinggi. Terutama daerah yang kelerengannya lebih dari 50% apakah terjadi tanah longsor, seperti Kecamatan Tegalombo, Kecamatan Arjosari, Kecamatan Bandar, Kecamatan Bandar, Kec Nawangan dan Kec Tulakan. Sedangkan daerah muara yang berpotensi banjir yaitu wilayah kecamatan Pacitan, kecamatan Ngadirojo dan Kecamatan Sudimoro.

    Bapak Kepala Cabang dinas Kehutanan Wilayah Pacitan Menghimbau agar Petugas di Lapangan agar berkoordinasi dengan wilayah binaan terkait dengan kondisi cuaca yang ektrim yang dapat mengakibatkan banjir dan tanah longsor. Serta melaporkan kejadian secara tertulis mengenai banjir dan tanah longsor di 12 kecamatan. Dalam hal pelaporan petugas lapangan harus menyertai foto berkoordinat, tempat kejadian, waktu kejadian, korban jiwa dan materi yang disebabkan dampaknya serta analisa tegakkan yang ada didaerah bencana yang dilaporkan. Rata-rata kejadian longsor di wilayah pacitan bukan karena tutupan lahan yang terbuka, tetapi memang curah hujan sangat tinggi sehingga tanah tidak mampu menampung debit air sehingga terjadi longsor parsial.

    Bencana alam seperti tanah longsor memang salah satu kehendak Tuhan yang tidak dapat diprediksi. Namun, kita dapat mengurangi risikonya dengan melakukan beberapa pencegahan tanah longsor seperti berikut ini:

    • Hindari membangun rumah di atas dan bawah lereng terjal. Longsor adalah bencana yang sering terjadi tiba-tiba tanpa disadari, jadi usahakan tidak mendirikan bangunan apapun di bawah lereng yang tanahnya terlihat rapuh.
    • Tidak membuat kolam aliran air untuk sawah di bagian atas lereng. Genangan air dapat melembutkan tanah sehingga risiko tanah longsor semakin tinggi
    • Jangan menebang pohon di daerah lereng. Sebaiknya ditanami dengan jenis tanaman keras yang akarnya kuat dan mampu mengikat tanah.
    • Usahakan tidak memotong tebing jalan menjadi tegak. Ketika tanah di bawahnya mulai terkikis maka dapat terjadi longsor runtuhan batu yang berbahaya.
    • Jangan mendirikan rumah di pinggir sungai karena tanah rawan terjadi erosi dan mengakibatkan longsor
    • Buat saluran pembuangan air (SPA) yang dapat menjadi tempat penampungan air tanah  ketika terjadi hujan lebat.

    Demikian pembahasan mengenai jenis-jenis, penyebab, dan cara pencegahan tanah longsor. Melalui artikel ini semoga kita semua semakin waspada dan dapat terhindari dari bencana.

    Jenis-jenis tipe longsor



    Untuk diketahui, La Nina akan menyebabkan meningkatnya curah hujan sebanyak 10 persen lebih tinggi dari biasanya pada musim penghujan. Namun demikian, La Nina ini dapat menyebabkan banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah yang menjadi langganan bencana alam.

    Fenomena La Nina ini ditandai dengan tekanan udara yang lebih rendah dari biasanya di Pasifik Barat. Wilayah yang termasuk dalam zona bertekanan rendah ini akan mengalami peningkatan curah hujan. Ini yang terjadi di kota karena adanya La Nina ini adalah badai yang yang mengarah ke selatan

    Hingga awal Februari 2023 ini, masih mengalami kondisi La Nina yang sudah terjadi sejak tahun 2020. Dalam periode Februari-Maret 2023 ini, La Nina diprediksi akan segera berakhir. Selanjutnya, pada semester kedua tahun 2023 nanti, kondisi netral dan El Nino memiliki peluang yang relatif sama untuk terjadi. Arahan dari BMKG agar masyarakat tetap waspada karena hingga pertengahan 2023 El Nino masih akan dipastikan akan hadir dalam kurun waktu tersebut (tahun ini).

    Selain longsor pada cuaca ektrem kemarin terjadi banjir di beberapa tempat di kota Pacitan, hal tersebut ditengarai curah hujan yang sangat tinggi dan sistem drainase vang tidak normal. Banvak selokan dan lubang resapan tersumbat sampah Kesiapsiagaan tidak hanya pada pemerintah atau aparatur kecamatan dan desa, namun juga masyarakat. Peringatan dini mitigasi dan edukasi kepada semua pihak termasuk masyarakat harus terus disosialisasikan dan menjadi bagian dari tanggap bencana.

     

    Jumat, 09 Desember 2022

    KONSERVASI TANAH DAN AIR

     

    LATAR BELAKANG


            Di awal musim hujan telah menurun, walau sesekali masih turun hujan. Menyikapi hal ini, sebagai penyuluh kehutanan yang bertugas di lapangan selalu memantau adanya resiko bencana yang mungkin terjadi dan segera melakukan pelaporan sebagai salah satu bentuk tanggung jawab dan perhatian terhadap wilayah binaan.

    Kecamatan Tulakan topografi wilayah yang sebagian besar berupa perbukitan ±85%. Pada daerah ini, di musim penghujan airnya melimpah hingga meluap, namun ketika kemarau air menyusut hingga nyaris kekeringan. Terdapat aliran sungai yang melalui hampir seluruh wilayah kecamatan Tulakan, membelah maupun melintang di antara desa-desa, sehingga otomatis bersinggungan dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. 

    Melihat kondisi alam yang demikian serta keadaan cuaca yang relatif sulit diprediksi, beragam resiko yang tak terhindarkan bisa mungkin dapat terjadi salah satunya yaitu erosi. Jika sudah terjadi tentunya hal ini mengganggu kelangsungan aktivitas masyarakat warga desa. Karena peristiwa erosi menyebabkan meluapnya sungai, jebolnya tanggul dan amblesnya jembatan. 

    Yang baru-baru ini terjadi di Tulakan yaitu di Desa Wonoanti terjadi bencana erosi yang berakibat tanah longsor menggerus pemukiman di desa Bungur, Losari dan Ngumbul.

    KONSERVASI TANAH DAN AIR 

    Tanah dan air sebagai sumberdaya alam terbarukan harus dikelola dan dimanfaatkan secara bijaksana agar diperoleh manfaat yang berkelajutan  dan produktifitasnya tetap lestari. Setiap macam penggunaan tanah serta aliran permukaan. Teknologi yang digunakan  dalam pengelolaan  lahan akan diperoleh pemanfaatan  dan  produktifitas  yang  berkelanjutan   atau  sebaliknya 

    Upaya penyelamatan bumi dalam bentuk Konservasi Tanah dan Air, sangat mendesak untuk mengembalikan ekosistem tanah dan air demi keselamatan kehidupan  yang menyertainya.  Konservasi  Tanah dan Air adalah dua hal yang saling berkaitan.  Tindakan  konservasi  atau perlindungan  alam terhadap tanah, berdampak pada ketersediaan kuantitas dan kualitas air yang berkelanjutan. Usaha konservasi  atau perlindungan  alam terhadap air, akan melibatkan  suatu tindakan untuk pengelolaan daerah tangkapan air secara terpadu, yang berarti juga tindakan konservasi  tanah  (Susilawati,  2006).  Berhubungan  adanya hubungan  yang  erat sekali antara tanah dan air, bahwa setiap perlakuan yang diberikan kepada permukaan  sebidang  tanah  akan mempengaruhi  pula  tata  air  ditempat  itu  dan hilimya, maka masalah konservasi tanah dan air merupakan dua hal yang berhubungan erat sekali (Triwanto, 2012).

    Penyelenggaraan   Konservasi  Tanah  dan  Air  bertujuan: 

     1. Melindungi permukaan  tanah  dari  pukulan  air  hujan  yang  jatuh,   meningkatan  kapasitas infiltrasi  tanah,   dan  mencegah   terjadinya   konservasi   aliran  permukaan:

    2.  Fungsi tanah pada  lahan agar mendukung  kehidupan  masyarakat;  

    3. Mengoptimalkan fungsi tanah pada lahan untuk mewujudkan  manfaat ekonomi, lingkungan hidup secara seimbang dan lestari;

    4. Meningkatkan daya dukung Daerah Aliran Sungai;

    5. Meningkatkan kemampuan kapasitas untuk mengembangkan   dan memberdayakan  keikutsertaan  masyarakat  secara partisipatif; dan menjamin  kemanfaatan

    Konservasi Tanah dan Air secara adil dan merata  untuk kepentingan masyarakat  (UU No.  37 Tahun  2014).Lahan menurut Siswomartono (1989) adalah lingkungan alami dan kultural tempat berlansungnya produksi;  suatu istilah  yang  lebih  luas  dari  pada  tanah.  selain  tanah,  sifat-sifat meliputi kondisi  fisik  lainnya,  seperti  :      Deposit  mineral,  iklim,  dan  pasok  air, lokasi yang bertalian dengan pusat-pusat kegiatan, populasi dan lahan lain; ukuran masing-masing  daerah; dan penutup tanaman yang ada, pekerjaan perbaikan, dan sebagainya.

     

    Konservasi  Tanah

         Konservasi  tanah  diartikan  sebagai penempatan  setiap bidang tanah pada cara penggunaan lahan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya  seuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Sifat-sifat fisik dan kimia tanah serta keadaan topografi lapangan menentukan kemampuan tanah untuk suatu penggunaan dan perlakuan yang diperlukan (Arsyad, 2010).

    Konservasi tanah dapat dikategorikan sebagai perpaduan ilmu pengetahuan yang mengembangkan   teknologi   pengawetan   sumber  daya  alam  khususnya sumber  daya tanah  dan  air  sebagai  faktor penentu  kualitas  lingkungan hidup. Konservasi tanah dan air itu sendiri adalah usaha-usaha untuk menjaga dan menigkatkan produktivitas tanah, kualitas, kuantitas air. Problem yang mendasari saat ini adalah pertambahan  penduduk  yang selalu meningkat  dengan kemajuan ilmu  pengetahuan  dan  teknologi  di era industrialisasi yang membutuhkan sejumlah tanah satu lahan yang cukup luas untuk aktivitas kehidupan dan pembangunan dalam mensej ahterakan umat manusia. Junaidi (2009) mengemukakan tujuan umum konservasi tanah saat ini ada 3, yaitu:

     

    1. Untuk melindungi  fungsi tanah  dari kerusakan  yang diakibatkan  oleh mi dan campur  tangan  manusia,  

    2.Untuk memperbaiki  fungsi tanah h mengalami kerusakan yang diakibatkan oleh faktor alami dan campur tangan manusia dan

    3. Untuk memelihara  sekaligus meningkatkan  kemampuan tanah  agar  dapat digunakan  secara  lestari.  

    Berdasarkan  ketiga  tujuan  tersebut, konsep   konservasi   tanah   telah  berkernbang   yang   sernula   hanya   bertujuan pencegahan rnenjadi perbaikan bahkan peningkatan kernarnpuan tanah dalarn fungsinya.


    Konservasi  Air

    Konservasi air pada prinsipnya adalah penggunaan air yang jatuh ke tanah seefisien rnungkin dan pengaturan waktu aliran yang tepat, sehingga tidak terjadi banjir  yang  rnerusak  pada  rnusirn hujan  dan  terdapat  cukup  air pada rnusirn kernarau.  Konservasi air dapat dilakukan dengan (a) rneningkatkan pernanfaatan dua kornponen hidrologi, yaitu air permukaan, dan air tanah dan (b) rneningkatkan efisiensi pernakaian air irigasi (Arsyad, 2010).

    Winarto,  (2006)  rnengatakan  bahwa  konservasi  surnberdaya  au  adalah upaya rnernelihara keberadaan serta berkelanjutan, keadaan sifat dan fungsi surnberdaya air,  agar  senantiasa  tersedia  dalarn  kuantitas  dan  kualitas  yang rnernadai  untuk  rnernenuhi  kebutuhan  rnakhluk,  baik  dalarn  waktu  sekarang rnaupun yang akan datang. Oleh sebab itu, tindakan-tindakan  yang berhubungan dengan  pengendalian  dan  pengelolaan  aliran  permukaan  dapat  diformulasikan dalarn strategi konservasi air. Aspek penting yang perlu diperhatikan adalah sebanyak-banyaknya di daerah-daerah cekungan atau lernbah, sehingga dapat digunakan  sebagai surnber air untuk pengairan  dirnusirn kernarau rnaupun pada periode pendek  saat dibutuhka oleh tanarnan pada rnusirn hujan. Konservasi  air juga   dapat   rneningkatkan   penutupan   permukaan   tanah  dengan   rnulsa   dan teknologi ini sudah sangat popular dikalangan petani (Kumia, dkk. 2003). Asdak  (2010)  setiap perlakuan  yang diberikan  pada  sebidang tanah  akan rnernpengaruhi tata air ternpat itu dan tempat-tempat  hilirnya. Oleh karena  itu, rnaka konservasi tanah dan air rnerupakan dua hal yang berhubungan  erat sekali, berbagai  tindakan  konservasi  tanah  rnerupakan  juga tindakan konservasi  air. Secara garis besar, metode konservasi tanah dan air dibagi menjadi rnetode vegetatif, rnekanik dan kirnia. Konservasi tanah dalarn arti luas nernpatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan tanah tersebut  dan  rnernperlakukannya  dengan  syarat-syarat  yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Sifat fisik, kimia dan biologi menentukan kemampuan tanah (soil copability) untuk suatu penggunaan dan perlakuan yang diperlukan agar tanah tidak rusak dan dapat digunakan secara berkelanjutan    (sustainable).  

    Sifat-sifat   tanah  tersebut  juga  menentukan   tanah untuk  tererosi. Konservasi  tanah  pada  prinsipnya adalah  penggunaan  air  hujan jatuh ke tanah unuk  pertanian  seeffisien mungkin,  dan mengatur  aliran  air agar tidak    terjadi  banjir  yang  merusak dan  terdapat  cukup  air  pada  waktu musim kemarau.


    Teknik Konservasi  Tanah dan Air 


    Teknik  konservasi  tanah  di Indonesia  diarahkan  pada  tiga prinsip  utama yaitu perlindungan permukaan tanah terhadap pukulan butir-butir hujan, meningkatkan kapasitas  infiltrasi  tanah  seperti  pemberian  bahan  organik  atau dengan  cara   meningkatkan   penyimpanan   air,   dan   mengurangi   laju   aliran permukaan sehingga menghambat material tanah dan hara terhanyut  (Agus,  dkk, 1999). Ketiga teknik konservasi tanah secara vegetatif, mekanis dan kimia pada prinsipnya  memiliki  tujuan  yang  sama yaitu mengendalikan  laju  erosi,  namun efektifitas,  persyaratan  dan  kelayakan  untuk  diterapkan  sangat  berbeda. Oleh karena itu pemilihan teknik konservasi yang tepat sangat diperlukan (Kasdi, dkk, 2003).

    Metode konservasi tanah dapat dibagi dalam tiga golongan utama,  yaitu

     1.   Metode vegetatif,

     2.   Metode mekanik dan

     3.   Metode kimia.

    A. Metode vegetatif (Penanaman dengan tanaman penutup tanah)

    Tumbuh-tumbuhan yang dapat berfungsi sebagai penutup tanah dapat di golongkan dalam tiga jenis, yaitu 
    • Turnbuhan  penutup  tanah  tinggi  atau  tanarnan  pelindung,   seperti Albizzia
    • Tumbuhan penutup tanah  sedang, berupa  sernak seperti beberapa turnbuhan leguminosa  (kacang-kacang
    • Turnbuhan  penutup  tanah  rendah,  seperti   Ageratum   conizoides  L  (babadotan),   dan beberapa jenis rumput-rumputan, misalnya akar wangi, rurnput gajah, dan rurnput benggala. 

    B.    Metode mekanik 

    Metode  fisik atau rnekanis adalah tindakan atau  perilaku  yang ditunjukan kepada  tanah  agar dapat  rnernperkecil  aliran  air  permukaan, sehingga dapat rnengalir dengan kekuatan tidak rnerusak. Pada   pengolahan   tanah,  pernbajakan  dilakukan   rnenurut   kontur   atau rnernotong lereng, sehingga terbentuk jalur turnpukan tanah dan alur diantara turnpukan  tanah  yang terbentang  rnenurut  kontur. Pengolahan  rnenurut  kontur akan lebih efektif jika  diikuti dengan penanarnan rnenurut kontur,  yaitu barisan tanarnan diatur sejalan dengan garis kontur (Arsyad, 2010).

    Keuntungan utama dari pengelolaan tanah rnenurut kontur adalah terbentuknya  pengharnbatan  aliran permukaan  dan terjadinya  penarnpungan  air sernentara, sehingga  dapat  rnengurangi  kernungkinan  terjadinya   erosi.  Untuk daerah dengan curah hujan yang rendah, sistern ini sekaligus sangat efektif bagi konsentrasi air (Suripin, 2004).

     Sukartaatrnadja   (2004),   mengemukakan  bahwa   teras   adalah   bangunan konservasi si  Tanah  dan  Air  secara  mekanis  yanng digunakan untuk memperpendek lereng dan atau memperkecil kemiringan lereng dengan jalan penggalian tanah melintang  lereng.  Tujuan  pembuatan  teras  adalah untuk mengurangi kecepatan aliran permukaan (run off)  dan memperbesar peresapan air, sehingga kehilangan tanah berkurang.

    C.  METODE KIMIA 

    Metode kimia merupakan salah satu sifat tanah yang sangat menguntungkan kepekaan tanah terhadap erosi. Oleh karena itu sejak tahun 1950-an telah dimulai adanya usaha-usaha untuk memperbaiki kemantapan struktur tanah melalui pemberian  preparat-preparat  kimia  yang  secara umum  disebut  pemantap  tanah (Soil conditioner). Suripin (2004) mengemukakan bahwa usaha pemantapan tanah yang  bertujuan  untuk  sifat  fisik  tanah  dengan menggunakan  preparat-preparat kimia baik secara buatan maupun alami.

    Bahan  pemantapan  tanah  yang baik  harus  mempunyai  sifat-sifat  sebagai berikut dalam (Suripin, 2004):

    1. Mempunyai  sifat yang adhesif serta dapat bercampur  dengan tanah secara merata 
    2. Dapat  merubah  sifat  hidrophobik  tanah,   yang  dengan  demikian  dapat merubah kurva penahanan air tanah 
    3. Dapat    meningkatkan    kapasitas    tukar    kation    tanah,    yang   berarti mempengaruhi kemampuan tanah dalam menahan air 
    4. Daya tahan sebagai pemantap  tanah cukup memadai,  tidak terlalu singkat dan tidak terlalu lama 
    5. Tidak bersifat racun (phytotoxic) dan harganya terjangkau.